Review Antologi Mengejar Angin Kategori Mahasiswa

Posted by Unknown Agustus 13, 2014 3 komentar
    

            Akhirnya janji untuk membuat riview Antologi Mengejar Angin kategori mahasiswa dapat kupenuhi. Oh, ya, dibandingkan dengan cerpen kategori pelajar, cerpen-cerpen kategori mahasiswa lebih bervariasi. Baik cara bercerita, mempersepsikan tema kebebasan, maupun pesan moral yang ingin disampaikan.
            Cerpen kategori mahasiswa dibuka dengan cerpen berjudul Gerbong. Bahasa yang digunakan dalam cerpen ini menurutku yang paling nyastra. Dan benar saja, setelah kubaca biodata penulisnya, Akbar Hari Mukti gemar banget makan tulisan Pram, Arswendo, Djenar, Joko Pinurbo, dan lainnya. Ngeri, yah! Cerpen ini bercerita tentang tokoh “Aku” dengan perempuan yang duduk di sebelahnya. Keduanya dipertemukan dalam  sebuah gerbong. Berkat ruang dan waktu, keduanya akhirnya saling berbicara dan mengungkapkan tujuannya naik kereta. Menurutku, cerpen Gerbong memiliki karakteristik yang sama dengan cerpen koran Kompas karena pada saat aku usai membacanya aku bisa merasakan banyak tanda tanya bermunculan di atas kepalaku. Lantas, aku pun mengubah posisi duduk dengan kedua mata menatap ke atas. Aku ingin merenung.
            Usai merenungi cerpen Gerbong, aku berpindah ke cerpen selanjutnya yakni Biji-Biji Martani yang ditulis oleh Pandan Bara. Aku suka ide ceritanya, unik. Tidak pernah terpikirkan kalau seandainya biji-biji yang dikumpulkan oleh Martani itu digunakan untuk menjawab rasa penasaran dari si tokoh. Di cerpen ini, si Martani yang punya kebiasaan “nyeleneh” sepertinya tidak tanpa sebab. Yapp, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Benar tidak? Cerpen ini, menurutku konservasi banget. Mengajarkan pembacanya untuk lebih menghargai alam beserta isinya yang diciptakan oleh Tuhan dengan sangat sempurna. Buktinya, tumbuh-tumbuhan saja berdzikir dengan cara menjalankan sunatullah tanpa mengeluh setiap waktu sampai tiba masanya untuk berhenti. Percakapan Pak Ainun dengan Martani menjadi bagian yang paling kusuka di cerpen ini. Meski begitu, aku kurang suka dengan ending-nya yang menurutku biasa saja.
            Benang Bahorok yang ditulis oleh Ambar Lusiyono, mahasiswa tuan rumah ini benar-benar istimewa. Sekilas aku membaca judulnya, muncul pikiran bahwa cerpen ini bakalan kayak cerpen pertama. Nyatanya, aku salah. Cerpen ini benar-benar Mak Jlep-Jlep-lah pokoknya. Puk-puk deh buat tokoh “Kamu” atau Kun yang akhirnya memutuskan benang “cintanya” ke tokoh “Aku”. Aishh, ini cerpen benar-benar bikin hatiku kretek-kretek karena penulis pintar banget bikin analogi cinta dari angin dan layang-layang bergambar Power Ranger. Kekurangan dari cerpen ini menurutku terletak pada tokoh “Aku” yang penggambarannya kurang konsisten. Di tengah-tengah cerpen tokoh “Aku” sepertinya sudah dibuat menyukai tokoh ‘Kamu”. Di salah satu narasinya ditulis “....Senyummu datang, mendadak bintang jadi redup.” *Gila, bintang saja kala bersinar sama giginya Kun, ini pakai pasta gigi merk apa, ya #abaikan yang ini. Eh, malah mendekati ending, tokoh “Aku” mencap dirinya jalang karena belum move on dari mantannya, Nino.
            Elnina Zee menulis cerpen dengan judul yang hampir mirip dengan cerpenku. Kalau aku judulnya Melukis Senyum, sedangkan punyanya Nina berjudul Melukis Langit Ibu. Cerpen ini menceritakan seorang anak kecil, Alif, yang punya impian untuk dapat menemui ibunya.  Rada klise sih pas bagian Alif di-bully oleh ayahnya yang tukang mabok. Dua sudut pandang yang digunakan yakni munculnya tokoh “Aku” juga sempat membuat aku terkecoh. Aku kira tokoh “Aku” manusia dan di akhir cerita bakal dituliskan bahwa tokoh “Aku” adalah ibu Alif, eh, tenyata aku salah. Tokoh “Aku” adalah malaikat yang pada akhirnya menjadi saksi dari kematian Alif dan ibunya. Dan ini berhasil menolong cerita yang idenya biasa menjadi tidak terduga di ending-nya.
            Meski dipenuhi dengan local wisdom Pulau Dewata, cerpen Anginku Apa atau Siapa karya Evnaya Sofia mengalir dengan datar dan hambar. Mba Evi yang sepertinya ingin menonjolkan budaya banget, malah  kelupaan untuk mengeksplor ide utama yang sebenarnya bagus jika dikembangkan plus dipadukan dengan penguatan penggambaran  tokoh “Aku” dalam menghadapi dilema antara memilih agama yang diyakininya dengan suami yang amat dicintainya.  Ending yang dibuat menggantung karena pertanyaannya, juga kurang menyentak. Kurang bagus digunakan sebagai pamungkas. Meski begitu, aku tetap suka dengan beberapa detail budaya Bali yang kental dan itu menjadikanku pengen ke Bali. Oh, ya, saran gratis ini untuk penulisnya. Kayaknya akan lebih membuat penasaran apabila tidak semua unsur budaya Bali diberi catatan kaki. Kalau sudah diberi footnote semua, pembaca akan malas mencari tahu.
            Cerpen Mengejar Angin atau dalam bahasa Belandanya Achtervolgen Wind karya Flazia ini cakep punya dan memang layak menjadi jawara. Alur yang dibuat maju-mundur ini, berhasil membuatku penasaran. Okeh, kukira ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan Bayu kepada Windi, tetapi ternyata aku salah. Ini cerita sebuah cinta yang diungkapkannya telat.  Padahal kan dua-duanya saling punya rasa sejak kecil. Ada bagian yang menurutku kurang pas nih. Emang boleh yah, orang yang habis operasi mata langsung lari-larian? *pertanyaannya ini kutunjukan untuk penulisnya yang juga calon dokter. Kok kayaknya serem banget gitu. Ah terlepas dari semuanya, cerpen ini bikin nyes...pengorbanan Windi-nya itu loh yang nggak nahan. Salut deh, buat seseorang yang bisa mencintai dengan cara seperti itu.
            Dibuka dengan sebuah kata tabularasa, cerpen Penggali Pusara Angin yang ditulis oleh Risa Rii Leon membuatku berpikir. Kayaknya pernah denger tentang tabularasa dari seorang dosen yang mengajar Psikologi Pendidikan, tapi lupa artinya. Well, balik lagi ke review-nya. Tidak menyangka juga tokoh utamanya, Renan, memiliki persamaan dengan keseharianku sebagai seorang reporter. Yupps, rasanya dikejar deadline saat menulis berita tuh frustasi banget! *nunjuk layar yang masih kosong melompong. Cerpen ini ke luar jalur dari bayanganku. Kukira akan disuguhi cerita tentang perjuangan seorang reporter untuk mengalahkan deadline, eh, ternyata malah sebuah cerpen yang menurutku hampir menyerupai esai liris. Penulis kurang memasukkan tokoh dalam narasi penggambaran makna “bebas” dan itu berhasil membuat cerpen ini menjadi kaku meskipun tak hanya sekadar cerita yang didapat saat membacanya. Aku mendapatkan banyak pengetahuan dari satu cerpen ini.
             Disuguhi cerpen yang narasinya terlalu banyak, jujur di awal-awal membuatku bosan. Ya, itulah yang kurasakan saat membaca cerpen yang ditulis oleh Sifa Afidati yang berjudul Sayap Garuda. Kebosanan ini ditambah lagi dengan ada banyaknya tokoh “Aku” yang bercerita. Di bagian awal tokoh “Aku” pyur sebagai aku. Kemudian, tokoh “Tegar” yang menceritakan dirinya dengan menggunakan “Aku” juga. Alhasil, karena pendeskripsian “Aku” yang hampir sama untuk kedua tokoh utama menjadikan beberapa bagian dalam cerpen ini cacat logika (hal.115). Menggarap cerpen dengan model berpindah-pindah sudut pandang memang sering terjadi yang seperti itu, apalagi menggunakan sudut pandang pertama. Jatuhnya malah mencederai cerita dan membuat pembaca kebingungan  mengenali tokoh mana yang sedang bercerita. Well, tetapi aku senang dengan tokoh “Tegar” yang ternyata memiliki mimpi yang sama denganku, mendirikan sebuah taman baca. FYI, cerpen ini dicetak dobel. Semoga saja penulisnya selalu mendapatkan rejeki yang dobel. Amin.
           
            Menurutku, judul Mamak Mimpiku Tak Hanya Angin kurang menarik untuk dijadikan judul sebuah cerpen. Kurang menjual gitu. Tetapi, nggak papa juga sih kalau misalnya Arrum, penulisnya, enjoy menggunakan judul semacam ini. Kalau aku sih memang kurang nyaman. Cerpen ini panjang dan menurutku membosankan. Cerita digali dari ide yang sudah biasa tentang si tokoh utama Riani yang memperjuangkan mimpi berkat dukungan dari seorang inspirator handal, Mamaknya. Cerita Riani untuk mimpinya dan mengejar kebebasan datar saja. Itu mungkin juga disebabkan oleh alur yang maju terus, walaupun di awal sudah diberikan flasback.  Meski begitu, cerpen ini pada akhirnya dapat ditolong oleh kehadiran ending yang tidak tertebak. Yupps, ternyata Mamak Riani yang membesarkan Riani dengan begitu gigihnya memiliki kekurangan yakni tidak bisa melihat. Ah, itu membuatku merinding. Seorang ibu memang luar biasa. Bisa-bisanya gitu melakukan hal-hal yang bahkan tidak terpikirkan untuk anak-anaknya. *Untuk ibuku yang ada di Brebes, telah kusampaikan salam rinduku lewat angin, nih. Jangan lupa dibalas dengan peluk dan cium. #Pengen  Nangis.
            Cerpen terakhir merupakan karyak, *Bagian ini nggak ada yang nanya, merupakan cerpen yang kukira nggak bakal lolos. Eh, ternyata lolos. Alhamdulilah ya, sesuatu. Melukis Senyum merupakan cerpen yang mengambil  empat seting yang berbeda. Gunung Bromo, Yogyakarta, dan Wonosobo merupakan tempat yang sudah kukunjungi dan memiliki jutaan kenangan di long term memoriku, sedangkan Jepang merupakan negara yang pengin kudatangi.
            Cerpen ini kupersembahkan untuk Pimpinan Redaksiku, Mba Dewi Maghfiroh yang telah memberikan izin untuk liputan di Bromo. Benar-benar menakjubkan! Tokoh Arendo juga merupakan tokoh imajiner untuk sosok Yoda, seseorang yang kutemui di Balaidesa Ngadisari.
            Well, membaca sembilan cerpen kategori mahasiswa memperkaya ilmuku  tentang ragam teknik penulisan cerpen. Benang merah yang bisa kuambil dari keseluruhan cerpen dalam antologi  Mengejar Angin adalah bahwa angin adalah tetap angin. Makna itu tidak akan pernah berubah sepanjang tidak ada usaha untuk mengejarnya. Sekali lagi, aku benar-benar bangga berada di antara sekian nama dalam antologi ini…*bentar ambil tisu. Dan, kuucapkan terimakasih yang tidak terhingga kepada panitia penyelenggara, Mas Kury Yusuf dan kawan-kawan dari Bengkel Seni Universitas Tidar Magelang yang kabar gembiranya sudah diekstrakkan menjadi perguruan tinggi negeri. Berkat event ini, sebuah tali silatuhrahmi yang semoga tetap mengikat sepanjang waktu bernama Pasukan Dandelion tercipta. Semoga kita selalu dilimpahi berkat dari Allah Swt. agar selalu istiqomah dalam berkarya di jalur literasi. Amin, ya Allah. The lastaku memilih cerpen Benang Bahorok sebagai cerpen favoritku.
Antologi Mengejar Angin dipadukan dengan setoblok getuk goreng asli Magelang

Pasukan Dandelion


           
Semarang, 14 Agustus 2014

Ditulis bertepatan dengan Hari Pramuka oleh seorang prajurit dandelion di sebuah kos yang masih sepi penghuni.  

Baca Selengkapnya ....

Review Antologi Mengejar Angin Kategori Pelajar

Posted by Unknown 1 komentar

         Kata yang ingin kuucapkan pertama kali adalah Alhamdulilah. Akhirnya antologi ini sampai ditanganku setelah beberapa sebab sempat nangkring lama di kantor pos. Rasanya senang banget, akhirnya antologi yang dipertemukan lewat lomba Tidar Fiction Festival ini bisa kubaca. Dari awal memang ada niatan akan membuat review cerpen milik  lima pelajar dan sepuluh mahasiswa ini. Tetapi, baru bisa kutuliskan hari ini.
            FYI, setelah diambil dikantor pos, aku segera membaca habis isi antologi ini. Ada dua kata yang ingin kuucapkan. Kalian Keren! *nunjuk biodata masing-masing penulis. Well, langsung saja disimak review dari pembaca amatiran sepertiku...
            Buat kategori pelajar, aku mulainya dari cerpen keren karya Anitahahaha yang berjudul Diary Anya Mengajaknya Berlari. Cerpen ini tepat banget dijadiin sebagai pembuka. Ringan dan ngena. Diksinya juga keren. Aku sempet syok dan dibuat kagum sama Anita. Nggak nyangka anak SMA yang suka banget sama senja ini bisa nulis cerpen  macam ini. Di antara tokoh yang ada yang paling kusuka adalah Ka Estu. Caranya mengamati Anya, benar-benar so sweet. Kekurangan dari cerpen ini, kurasa hanya adanya beberapa typo. Selain itu, alasan mengapa mama Anya terlalu mengekang anaknya sendiri juga sedikit membuatku penasaran.
            Lanjut ke cerpen kedua berjudul Kanang. Saat kubaca nama penulisnya, kukira ia seorang laki-laki, tetapi ternyata aku salah. Arditya GF adalah seorang perempuan. Cerpen yang menggunakan judul dari nama tokoh utamanya ini bercerita tentang Kanang yang hidupnya terkekang oleh adat yang terlalu mendeskriminasikan seorang perempuan. Kentara betul penulis ingin membuat cerpen yang kental dengan budaya lokal Pulau Kalimantan, tetapi entah mengapa aku merasa agak dipaksakan. Aku kurang bisa masuk ke dalam budayanya. Meski begitu, aku tidak menyangka ending-nya bisa seperti itu. Cukup mengejutkan. Twist-nya dapat. Tetapi, seperti ada yang janggal di cerpen ini. Di awal disebutkan bahwa Umak sangat tidak menghargai anak perempuan, bahkan ia ikhlas-ikhlas saja bila anak perempuannya mati, tapi kenapa diakhir cerita, Umak mau menerima Kanang saat dititipi oleh ibu kandung Kanang. Jadinya bersebrangan gitu.
            Cerpen Mencari Napas yang ditulis Nur Fahmia dipenuhi dengan diksi-diksi yang keren. Tokoh Dimas dalam cerpen ini mirip dengan tokoh Estu di cerpennya Anita. Ya, mereka sama-sama menyukai seseorang yang memiliki masalah keluarga. Rena digambarkan sebagai gadis yang senang menulis, rajin, pendiam, dan jutek pada Dimas. Tetapi, karena perjuangan Dimas yang luar biasa dan pantang menyerah untuk meluluhkan  hati Rena, akhirnya di akhir cerita Rena dapat memberikan senyumnya kepada Dimas. *Fahmia kuucapkan selamat ya, cerpen ini memang pantas jadi yang terfavorit pilihan juri. 
            Sesty Arum dengan cerpennya yang berjudul Satu Mimpi Lagi memang layak buat jadi juara kategori pelajar. Sosok pencerita “Gue” benar-benar hidup. Karakternya juga kuat. Suka banget aku sama cerpen ini. Ceritanya itu ngalir banget dan banyak kejutannya. Tokoh “Gue” juga berhasil membuatku merenungi lagi tentang sebuah mimpi yang seharusnya diperjuangkan bahkan hingga napas terakhir. Selain tokoh “Gue” aku juga suka banget sama Hara. Salah satu quote dari Hara yang sangat menginspirasi adalah “Mimpi memang harus diwujudkan, tetapi yang seharusnya kita kejar adalah kebebasan untuk mengejar mimpi itu.” *Quote ini mengalami perubahan dari  bentuk aslinya. Oh, ya, cara Sesty mempertemukan “Gue” dan Hara lewat “lari” menurutku keren banget.
            The Wind Catcher (silahkan di terjemahkan sendiri artinya) merupakan cerpen yang ditulis oleh Lio Swara bercerita tentang sebuah keluarga yang kaya raya. Ayah keluarga itu menghendaki anaknya menjadi penerusnya kelak. Tetapi sayangnya, dari ketiga putranya tidak ada yang sesuai kehendaknya. Anak pertamanya kabur untuk meraih mimpinya menjadi Tentara. Tomi-anak kedua, meskipun mau menjadi penerus bahkan mengorbankan mimpinya untuk menjadi dokter ternyata juga mengalami kegagalan dalam menjalankan perusahaan. Terakhir, Niko, seorang yang jenius menjadi harapan terakhir ayahnya ternyata menolak dan bersikeras untuk menjadi seorang pilot. Menarik sebenarnya ide dari cerpen ini. Akan tetapi ada beberapa hal yang membuat cerpen ini jadi aneh. Dialog-dialog yang digunakan terlalu metafor. Agak lebay gitu. Aku kurang setuju seorang anak berbicara dengan ayahnya dengan perkataan penuh majas seperti itu.
            Kelima cerpen kategori pelajar di atas seperti memiliki benang merah yakni tentang persamaan persepsi dari kelima penulis cerpen. Semuanya rata-rata menggambarkan tema “Mengejar Angin” sebagai usaha untuk memperjuangkan sebuah mimpi. Anya dengan mimpinya sebagai novelis.  Kanang dengan mimpinya untuk dapat menuntut ilmu. Rena dengan mimpinya untuk mencari uang. “Gue” dengan larinya dan Niko untuk menjadi seorang pilot. Pada bagian terakhir review ini, aku memilih cerpen “Satu Mimpi Lagi” karya Sesty untuk menjadi cerpen kategori pelajar yang paling kufavoritkan.

            

Baca Selengkapnya ....

Review Novel Amina Part 1

Posted by Unknown Agustus 12, 2014 0 komentar
       

          Tentu saja, setiap perempuan yang berumur 20-tahunan, paling tidak seperti aku. Seorang mahasiswa, jomblo, aktif dalam bidang jurnalistik, akan memiliki satu pemikiran yang sama tentang hidup ini. Bahwa hidup lebih menyenangkan jika tidak hanya diam, melainkan terus bergerak agar tidak bosan dan mudah jenuh. Okeh, tulisan ini juga terinspirasi atas meninggalnya aktor Holywood, Robin Wiliams. RIP buatnya. Moga saja meskipun bunuh diri menjadi sebuah pilihan, ia dapat mempertanggungjawabkannya dihadapan Tuhan.
            Barangkali ketika aku bosan, ada tiga alternatif pilihan untuk menghilangkannya. Traveling, menjadi pilihan paling ampuh. Obat mujarab  yang tidak tertandingi di dunia. Tetapi sayangnya pepatah lama mengatakan “Ada Uang Ada Barang” berlaku untuk alternatif yang satu ini. Ya, anggap saja aku tidak dapat meluangkan banyak uang, sehingga terkadang traveling menjadi opsi terakhir.
            Alternatif kedua adalah membaca buku. Aku suka teenlit, ya itu karena ringan banget buat dibaca. Ampuh juga buat jadi hiburan yang murah meriah. Nah, alternatif ketiga lah yang paling kugemari untuk kulakukan. Nonton film Korea. Sejak demam Korea masuk sekitar tahun 2000, aku salah satu yang terjangkit oleh virusnya. Bayangkan saja dalam sehari, aku bisa menghabiskan satu drama Korea yang lumrahnya terdiri atas 16-20 episode. Drama Korea memang benar-benar virus yang luar biasa, paling tidak bagiku.
            Aku tak ingat, berapa banyak drama Korea yang sudah kutonton. Jika kusebutkan satu per satu mungkin aku tak bisa. Bukan karena apa-apa. Kesulitan dalam diriku yang hingga tulisan ini selesai dibuat salah satunya adalah kesulitan untuk menghafal nama, judul, bahkan warna angkot. *untuk yang terakhir, memiliki kenangan tersendiri karena berakibat aku diturunkan di tengah jalan dan ditertawakan oleh anak  anak Sma.
            Kujelaskan lagi, anggaplah untuk kali ini aku tidak memperdebatkannya. Di sini, hanya akan kutuliskan pengalamanku berdasarkan kisah nyata (True Story). Jadi begini, Selasa (12/8) aku membaca sebuah novel Amina karya Muhammed Umar, pengarang asal Nigeria. Novel milik teman yang kupinjem dan sudah dua bulan ini berada di kardus. Penasaran, karena inget beberapa teman yang telah membacanya memberikan komentar yang bagus-bagus. Di antara beberapa tumpukan buku yang plastiknya saja masih ada, aku memilih Amina yang berpenampakan kumal, bau, dan tidak sedap dipandang mata.
            Lembar demi lembar novel ini kubaca. Biasa, sebagai seseorang yang punya mimpi untuk jadi penulis novel, dilembar pertama aku membacanya dengan teliti. Ya, aku amati diksi, gaya bercerita, cara menyusun alur, dan juga cara menyampaikan pesan moral lewat narasi dan dialognya. Menarik dan mudah dipahami itu hipotesaku sementara. Ya, untuk novel terjemahan Amina memiliki keunggulan sendiri. Aku pernah membaca novel terjemahan yang berjudul Mengapa Tuhan Tertawa. Dari judulnya saja sudah bikin penasaran apalagi isinya, pikirku. Mantap! Tetapi tidak dalam kenyataan. Novel ini telah membuat aku hilang selera untuk membaca, bahkan untuk sampai ke lembar ke sepuluh. Alasannya karena bahasanya njlimet dan susah dipahami olehku yang saat itu masih duduk di bangku Sma kelas dua. Barangkali jika ada waktu aku akan mulai membaca lagi novel itu.
            Memasuki lembar selanjut dan selanjutnya, Amina semakin membuatku tercengang. Saat menulis ini, aku baru sampai di halaman 79. Ada beberapa hal yang membuatku terhenyak dan sempat menahan napas karena tidak menyangka. Umar dapat menuliskan novel dari bahan yang begitu pelik di dunia ini. Bahan yang yang membuatku ogah mempelajari padahal aku kuliah ambil jurusan itu. Yupps,  bahan dari Amina adalah masalah politik, gender, pembagian kelas, dan kapitalisme di negara-negara dunia ketiga yang terletak di benua Hitam, Afrika.
             Di bagian awal tulisan ini, aku membuat beberapa opsi tentang bagaimana caraku menghilangkan kebosanan. Tentu saja, dengan beberapa kondisi yang memengaruhinya. Di Amina, ternyata menemukan hal yang sedikit mirip. Salah satu tokohnya, Fatima yang digambarkan sebagai seorang wanita yang memiliki pemikiran progresif, peduli terhadap masyarakat khususnya nasib perempuan, dan menentang kapitalisme ala Barat.
            Fatima adalah sosok yang tidak kumengerti dalam novel ini. Biasanya seorang perempuan menyukai hidup mewah, memiliki suami kaya raya, hidup dengan nyaman, dan juga tidak suka berdiskusi. Tetapi di novel ini, Fatima digambarkan sebagai sosok yang berbeda. Dia memilih bercerai dengan suaminya yang kaya hanya karena ia tidak bisa berkompromi dengan prinsip-prinsipnya. Ah, sedikit liar, bukan? Sepengetahuanku, bukankah seorang perempuan surganya dekat sekali dengan suaminya. Fatima, dalam sikap yang  begitu tegas karena suaminya termasuk dalam golongan “Kelas Borjuis” tidak menerima semua kenyamanan yang didapatkannya.
            Fatima, janda yang berpikiran cerdas itu pun tak tanggung-tanggung dalam berpikir ia mendebat seorang Kapitalis bernama Bature. Di Bab lima, dituliskan saat Bature menawarkannya untuk mencoba seorang Kapitalis, beginilah jawaban Fatima.
            “Kuakui Anda memang kuat. Tapi tidak berarti aku akan bergabung denganmu. Aku punya misi, dan satu hal yang tak akan pernah kulakukan adalah berkompromi atas prinsip-prinsipku. Aku lebih suka minum air putih dan tidur dengan harga diri yang utuh daripada makan kaviar tapi jadi pelayan kapitalisme.” (hal. 58)
           
            Bersambung...

            *Ah, ya satu hal yang tidak bisa kumengerti lagi dari Fatima, ia sangat suka    berdiskusi. Menggilai malah. Bayangkan jika Fatima adalah aku? Pasti cerita tentang  Fatima akan berakhir di halaman awal-awal.
                       
            *Tulisan ini kupersembahkan untuk seorang teman, aku berkata padanya akan        memulai nulis lagi di blog. Ini adalah tulisan pertama yang kubuat setelah sekian bulan vakum.
           
            *Terimakasih juga buat Misbah A. Nurdi yang telah menyarankan novel ini    buatku. Novel ini memiliki hal semacam mantra sepertinya. Baru sampai halaman 79 saja,       aku tidak sabar untuk menuliskan tentang reviewnya.       Meskipun tidak lengkap.

            

Baca Selengkapnya ....

Eksistensi Sebuah Nama

Posted by Unknown Mei 21, 2014 0 komentar
          
           



              Akhir-Akhir ini pikiran saya sering dikisruhkan tentang eksistensi sebuah nama. Ya, nama saya. Lebih tepatnya nama yang saya gunakan dalam dunia maya. Solesepatoe Soeszhyy Patdhien. Alay banget kan?         
         Saya mengakui memang benar demikian. Mutlak alaynya. Di FB, nama saya memang sering diributkan oleh sebagian orang. Pernah seseorang yang kenal betul siapa saya, mengirim ke kronologi.
            “Sus..namamu itu mbok diganti. Alay banget!” tulisnya beberapa bulan yang lalu, segera setelah ia menerima permintaan teman dari saya.
            Kaget? Tentu iya, tetapi saya biasa saja menanggapinya. Enteng, saya menjawab, “Lah, gimana mau diubah mba, orang udah paten itu. Udah nggak bisa ganti nama lagi.”
            Selang beberapa hari, sebuah inbok dari teman sesama penulis juga memberikan tanggapan yang serupa. Nama FB saya tidak menjual banget lah pokoknya. Ya, walau pun secara terang-terangan ia tidak mengungkapkan untuk menggantinya, saya tetap mengerti maksud tersiratnya.
            Tak cukup di situ, Rabu (22/5) saya berencana bergabung dengan salah satu grup kepenulisan sastra. Seperti biasa, saya kepo-in dulu profil grup tersebut. Betapa kagetnya, ketika dalam salah satu status yang ditulis admin grup itu menyebutkan persyaratan-persyaratan agar dapat masuk menjadi anggota.
1.      Nama FB bukan nama ALAY
2.      Mempunyai teman penerbit
3.      Mempunyai teman penulis
            Syarat kedua dan ketiga, saya aman. Lolos dengan mulus. Namun, masalahnya adalah syarat nomor 1. Ibarat kata itu masih menjadi ganjalan langkah saya selanjutnya. Selama dua hari saya menunggu konfirmasi. Di cek beberapa kali, hasilnya tetap nihil. Hingga sampailah pada hari ketiga. Di pemberitahuan, seorang telah memasukkan nama  saya menjadi anggota. Wah, saya tidak mengira. Cukup senang. Tidak menyangka bakalan lolos.
            Nah, sepenggal cerita di atas adalah sekelumit kisah nama FB yang alay banget pokoknya. Tetapi, entahlah meskipun banyak orang yang mempermasalahkannya-tentu ini adalah salah satu bentuk kepedulian mereka kepada saya-tekad saya sudah bulat. Nama Soelsepatoe Soeszhyy Patdhien tetap saya pertahankan.
            Di balik sebuah nama pasti ada cerita. Di balik sebuah cerita pasti ada hikmah. Saya pribadi mengerti betul bahwa nama FB saya yang alay-nya nggak ketulungan itu mempunyai kisah yang kelak akan saya tuliskan. Kelak akan saya abadikan. Saya percaya, jika saya mempertahankan sesuatu di tengah desakan perubahan, saya akan mendapatkan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh orang. Ia adalah kenangan.


            

Baca Selengkapnya ....

Maafkan Anakmu, Ibu!

Posted by Unknown Mei 14, 2014 0 komentar


Mei 2010
            Stres melandaku. Menjatuhi pikiranku dengan bertubi-tubi pertanyaan. Mengapa dia putuskan aku, disaat pernikahan sudah dekat? Hah! Mengapa? Semua wanita memang sama saja. Di dalam jiwa mereka tertancap erat, kuat, dan lekat tentang paham materialisme.
            Telak hatiku yang remuk, membuat jiwaku bangkit. Ingin kubuktikan bahwa lelaki yang telah dihina akan lebih semangat dari biasanya untuk mengejar impian. Aku mulai mencari kerja. Melamar dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Namun, nihil.  Tak satupun kabar yang kuterima berisi kebahagiaan.
            Aku mulai stres. Lebih dahsyat dari sebelumnya. Perlahan, aku mulai berubah. Aku muak dengan hidup yang melulu menderaku dengan rasa putus asa. Bersama dengan teman-temanku, aku mencari kenikmatan.
            Merokok kini menjadi kenikmatan tersendiri untukku. Segera setelah bangun tidur, aku duduk di kursi depan rumah. Menyulut rokok. Menghembuskan asapnya, pelan. Ah, nikmatnya. Dalam sehari kuhabiskan satu bungkus rokok, bahkan bisa lebih. Bagiku, rokok adalah segala-galanya. Jika sehari tidak merokok ada sesuatu yang hilang dariku.
***
            Ibu uring-uringan setiap waktu. Seringnya Ibu memaki-maki kelakuanku yang berubah drastis. Mana anaknya yang dulu punya impian untuk membahagiakan ibunya? Mana anaknya yang dulu punya segudang cara untuk mengejar kesuksesan?
            Ibu, anakmu sudah mati! Jiwanya lenyap bersamaan dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan tunangannya dulu.
***
            TV, kipas angin, dan kulkas, kujual sesuka hati. Aku tidak peduli dengan teriakan Ibu yang diiringi tangisan membabi butanya. Yang kutahu aku sangat butuh uang. Aku ingin rokok. Rokok, Ibu!
            21 September 2013
            Hari itu, setelah bangun kuambil sepotong roti yang ada di meja. Aku lapar. Namun, mendadak aku diam. Baru sepotong roti yang kumasukkan, aku tidak sanggup menelan. Tenggorokanku sakit. Seperti dihunjami ratusan paku. “Ah, sakit!” batinku. Gelas yang kupegangi tiba-tiba terlepas dari tangan. Pecah berkeping-keping.
            Aku runtuh. Badanku ambruk. Selang beberapa hari kemudian, kesehatanku semakin parah. Tenggorokanku semakin sakit. Terlebih batuk yang menyertainya. “Ibu, ada apa dengan anakmu?” Kupanggil-panggil nama ibu di antara desau nafasku yang begitu menyesakkan.
            Darah yang kukeluarkan dari mulutku membuat ibuku menjerit ketakutan. Lantas, Ibu mengantarku ke rumah sakit. Ya, awal Oktober kujalani opname. Dokter mengatakan aku positif mengidap kanker tenggorokan akut  karena merokok.
            Kulihat Ibu meneteskan air matanya. Air mata yang kesekian. Di antara selang infus yang melingkar dimulutku, aku merasakan bahwa ibu berubah. Badannya mulai renta. Keningnya mulai berkerut. Beberapa helai rambutnya memutih. Ibu, apa yang selama ini kulakukan?
***
            Aku menyesal, Ibu. Sungguh! Jika waktu dapat diputar, aku ingin kembali pada saat menjadi anakmu yang baik. Anakmu yang tidak membangkang. Anakmu yang selalu membuat Ibu tersenyum.
            Ibu kehabisan dana. Uangnya tidak cukup untuk membayar semua biaya rumah sakit. Aku yang masih kritis terpaksa harus menjalani kesakitan di ranjang rumah, setelah pihak rumah sakit mengusirku.
            Ibu mengurusi aku setiap hari. Tanpa mengenal jeda. Tanpa merasa lelah. Di bagian leherku telah tumbuh benjolan-benjolan yang mengerikan. Darah yang kukeluarkan setiap hari semakin banyak. Berat badanku turun secara drastis. Aku bagaikan zombi yang tulangnya menyumbul di sela-sela kulit.
             Lengkingan suaraku setiap kali batuk, selalu membuat ibu terbangun dari tidurnya. Setiap kali aku makan, ibu melumatkan makanan sehalus mungkin agar aku tidak kesusahan menelan. Setiap hari aku hanya bisa mengotori seprai tempat tidur dengan kotoran dan air seni. Ibu, tanpa mengenal lelah, tanpa pernah berkeluh kesah, selalu mengurusi semuanya untukku.
***
            Di suatu pagi, aku tidak bisa bergerak sama sekali. Dua mataku berseliweran mencari Ibu. Tepat di samping ranjangku, Ibu tengah tertidur. Tangannya memangku kepalanya. Lama, kuperhatikan Ibu. Tiba-tiba air mata ini meluncur tanpa pernah bisa kutahan.
            Dalam diamnya. Dalam hembusan nafasnya yang telah lenyap. Aku memandangi Ibu yang terkulai begitu damai.
            “Maafkan anakmu, Ibu. Kalau boleh kuminta sesuatu padamu, tolong apabila aku dilahirkan kembali, tetaplah menerima aku sebagai anakmu, Ibu...”
***
            Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis di Blog “Diary sang Zombigaret
            Sumber Gambar: www.turnbacktogod.com%2Fstop-smoking-anti-smoking-ads-part
            

           



Baca Selengkapnya ....

Jumlah Tamu

Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of MANTRA BACA .