Tampilkan postingan dengan label Info Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Lomba. Tampilkan semua postingan

Gencar Berpromosi dan Mental Mencintai

Posted by Unknown Agustus 30, 2014 0 komentar

            Pariwisata Indonesia semestinya menjadi sumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang menjanjikan seperti pajak ataupun retribusi. Sayangnya, potensi yang ada belum dikelola secara maksimal. Dari pengalaman mengunjungi pariwisata di Indonesia, seperti Dataran Tinggi Dieng, Tangkuban Perahu, Gunung Bromo, dan pantai-pantai seperti Parangtritis, Bandengan, Randusanga, dan Widuri ada beberapa hal yang menjadi catatan yakni lemahnya infrakstruktur atau akses jalan menuju tempat wisata, banyaknya pedagang yang menjual ragam oleh-oleh dengan tarif yang tinggi, fasilitas umum yang tidak dikelola dengan baik, serta promosi yang tidak menjangkau semua kalangan.
            Pengembangan pariwisata Indonesia dapat dimulai dari hal yang paling mudah untuk dilakukan yakni promosi. Media promosi yang ada seperti media sosial, media cetak, booklet berwarna yang lengkap dan menarik, bahkan cara pengenalan dari mulut kemulut pun dapat digunakan. Selain itu, fenomena sebuah film dapat menarik wisatawan untuk berkunjung pun patut dicoba oleh pihak-pihak yang terkait, jangan lupakan bagaimana sekarang Semeru dan Pulau Belitong begitu terkenal karena film 5 CM dan Laskar Pelangi. Media promosi yang gencar, harus didukung dengan perbaikan sana-sini. Mensosialisasikan mental “berbudaya” dan belajar mencintai alam Negeri sendiri adalah hal utama yang segera mungkin dilakukan. Daerah-daerah di Indonesia dapat meniru kesuksesan pariwisata di Bali sebagai bukti konkretnya.


           




Baca Selengkapnya ....

Macam-Macam Gombalan tentang "Panah"

Posted by Unknown Agustus 29, 2014 0 komentar

Part 1
Cowok: “Tadi malam aku mimpiin kamu loh.”
Cewek: “Masa?”
Cowok: “Iya. Di mimpiku kamu  jadi atlet panahan.”
Cewek: “Yang bener, mana buktinya?”
Cowok: “Nih kamu lihat dadaku penuh dengan panah cintamu.”

Part 2
Cowok: “Yang, kamu tahu nggak bedanya panah sama kamu?”
Cewek: “Apa coba?”
Cowok: “Kalau panah nancepnya dipapan, kalau kamu nancepnya di hati aku."
Part 3
Tebakan : Orang kena panah bukannya kesakitan malah senyum-senyum sendiri, kenapa coba?
Jawaban : Panteslah. Panahnya panah asamara.

Part 4
Cowok: “Yang, plis! Jangan mempermainkan aku seperti busur.”
Cewek: “Maksudnya?”
Cowok: “Iya, soalnya kamu sering tarik ulur perasaanku. Sakit tahu!”

Part 5
Cowok: “ Kamu suka olah raga apa?”
Cewek: “Panahan!”
Cowok: “Oh. Kalau aku suka banget sama lari.”
Cewek: “Kenapa?”
Cowok: “Soalnya biar bisa mengejar cintamu.”

Part 6
Biarpun kamu menyuruhku untuk menyeberangi samudera, melintasi lautan, ataupun mendaki Himalaya, pasti kulakukan. Tetapi ada satu hal yang kuminta. Tolong, kamu jangan jelalatan terus dan menebar panah-panah asmara ke semua lelaki. Kamu tahu kan, sakitnya tuh di sini!

Part 7
Cowok: “Waktu ibumu hamil kamu, ngidam kopi ya?”
Cewek: “Kok tahu?”
Cowok: “Iya, soalnya sejak mengenalmu, aku susah tidur.”
Cewek: “Gantian aku yah. Kamu tahu nggak persamaan kamu sama panah?”
Cowok: “Nggak. Emang apa?”
Cewek: “Kena panah sakit kan? Sama kayak aku kalau lihat kamu jalan bareng cewek lain. Sakit!”
Part 8
Cewek: “Kamu sedang lukis apa?”
Cowok: “Panah.”
Cewek: “Kalau begitu aku mau gambar busurnya?”
Cowok: “Lah kok gitu?”
Cewek: “Iya biar sama kayak kita. Saling melengkapi.”

Part 9
Olahraga panahan itu nggak semudah yang dipikir. Perlu usaha keras, konsentrasi yang kuat, dan pikiran yang tenang. Sama halnya untuk mendapatkan cintamu. Kalau gegabah dan tidak sabaran bisa ditinggal pergi. Apalagi kalau konsentrasi buyar, ditinggal sedikit saja bisa lari kayak kamu. Iya kamu! Yang udah ninggalin aku.

Part 10
Di salah satu ospek, seorang mahasiswa baru, sebut saja Bunga, diajak kenalan oleh seorang kakak senior.

Kaka Senior

Ke lapangan main bola
Tidak lupa nonton panahan
Neng manis siapa namanya?
Boleh bang ajak kenalan?

Bunga:

Ke pasar nyari gula
Pulangnya mampir beli panah dan bayam
Nama saya adalah Bunga
Kenalan boleh asal tidak macam-macam

Part 11
Cowok: “Kamu tahu nggak persamaan Cupid sama aku?”
Cewek: “Nggak. Emang apa, Beb?”
Cowok: “Ke mana-mana selalu bawa panah cinta yag ditujukan untuk kamu.”



Baca Selengkapnya ....

Yang Keren yang 4B

Posted by Unknown Agustus 28, 2014 0 komentar

       Woy kalian! Yang ngakunya anak muda, Masih sering galau? Masih sibuk ngeselfie di mana-mana? Masih betah mantengin facebook, twitter, ama games berjam-jam? Atau masih ngelakuin hal-hal nggak mutu yang bisa merusak diri seperti nge-drugs, tawuran, bolos sekolah atau kuliah? Kalau kalian jawab iya. Plis, baca tulisan yang satu ini.
            Enam puluh sembilan tahun Republik Indonesia merdeka. Kalau kalian “anak-mudanya” masih bingung ngejawab pertanyaan seperti, “Loe bisa ngelakuin apa sih?” berarti kalian masih belum bebas. Pikiran kalian masih terjajah. Kalau begitu keadaannya, kayaknya kalian perlu belajar banyak dengan Soe Hok Gie, satu dari sedikit anak muda Indonesia yang menginspirasi. Tidak perlu sama persis seperti sosoknya, kalian cukup belajar dan meniru apa yang telah Gie lakukan untuk dirinya, keluarga, bahkan Negara tercinta ini, seperti:
            Bermimpi : Anak muda yang nggak punya mimpi itu cupu banget! Jutaan mimpi ada di dunia ini dan kalian bebas milih. Mau jadi dokter agar bisa menyembuhkan penyakit, bisa. Mau menjadi guru untuk mencerdaskan bangsa, boleh banget. Mau jadi penulis seperti Andrea Hirata atau menjadi penyanyi go internasional seperti Agnes Mo, nggak ada yang larang. Semua sah-sah saja, apalagi buat kalian yang masih muda. Waktu, tenaga, dan kesempatan masih terbuka lebar. Hanya tinggal bagaimana kalian mewujudkannya.
            Belajar:  Gie memiliki pemikiran yang jauh ke depan dibandingkan dengan teman-temannya. Ia pintar dan selalu berprestasi di sekolah. Rahasia Gie cuma satu. Ia tahu betul kewajibannya untuk belajar. Gie memanfaatkan fasilitas seperti perpustakaan untuk meminjam buku. Dari bukulah ia memiliki pengetahuan-pengetahuan untuk mengkritik dan memprotes pemerintah Orde Lama yang melakukan penyelewengan dan ketidakadilan.
            Bertualang: Semasa kuliah, Gie aktif dalam MAPALA- organisasi pencinta alam. Yupps, sama seperti Gie nggak ada salahnya  kalau kalian memanfaatkan waktu yang ada untuk menjelalah Nusantara. Mendaki Mahameru, menyelami Raja Ampat, belajar kesahajaan suku Badui,  dan mengagumi kemegahan Borobudur. Lalu rasakan apa yang terjadi. Kalian pasti bangga dilahirkan di tanah yang indah ini.
            Berkarya: Biarpun Gie masih muda, karyanya bejibun. Ada bukunya yang fenomenal Catatan Seorang Demonstran, tulisan-tulisannya banyak bersebaran di media massa, plus puisi-puisi yang dia tulis sampai sekarang masih dibaca oleh banyak orang. Yupp, kalau kalian mau seperti Gie yang dikenang sepanjang masa. Kuncinya satu kalian harus berkarya dan menghasilkan karya. Karya yang dihasilkan tidak perlu muluk-muluk, cukup berkarya dengan apapun yang kalian suka. Pak Habibie bisa bikin pesawat juga karena suka. So, mulailah berkarya dan jangan malu untuk menunjukkan karya kalian di hadapan dunia dan berteriak, “Ini karya gue, mana karya loe?” Keren kan? Banget.
            Well, ngelakuin “4B” untuk jadi anak muda keren emang nggak mudah. Tetapi, apapun itu kalian harus percaya diri dan berani mencoba. Bung Karno pernah berkata, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya kucabut Semeru dari akarnya. Berikan akau 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Perkataan sang Proklamator Indonesia tentunya nggak main-main dan tugas kalian “anak muda” adalah membuktikannya.


    Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Contest #PatriotIsMe #Advan #DamnILoveIndonesia

Baca Selengkapnya ....

Maafkan Anakmu, Ibu!

Posted by Unknown Mei 14, 2014 0 komentar


Mei 2010
            Stres melandaku. Menjatuhi pikiranku dengan bertubi-tubi pertanyaan. Mengapa dia putuskan aku, disaat pernikahan sudah dekat? Hah! Mengapa? Semua wanita memang sama saja. Di dalam jiwa mereka tertancap erat, kuat, dan lekat tentang paham materialisme.
            Telak hatiku yang remuk, membuat jiwaku bangkit. Ingin kubuktikan bahwa lelaki yang telah dihina akan lebih semangat dari biasanya untuk mengejar impian. Aku mulai mencari kerja. Melamar dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Namun, nihil.  Tak satupun kabar yang kuterima berisi kebahagiaan.
            Aku mulai stres. Lebih dahsyat dari sebelumnya. Perlahan, aku mulai berubah. Aku muak dengan hidup yang melulu menderaku dengan rasa putus asa. Bersama dengan teman-temanku, aku mencari kenikmatan.
            Merokok kini menjadi kenikmatan tersendiri untukku. Segera setelah bangun tidur, aku duduk di kursi depan rumah. Menyulut rokok. Menghembuskan asapnya, pelan. Ah, nikmatnya. Dalam sehari kuhabiskan satu bungkus rokok, bahkan bisa lebih. Bagiku, rokok adalah segala-galanya. Jika sehari tidak merokok ada sesuatu yang hilang dariku.
***
            Ibu uring-uringan setiap waktu. Seringnya Ibu memaki-maki kelakuanku yang berubah drastis. Mana anaknya yang dulu punya impian untuk membahagiakan ibunya? Mana anaknya yang dulu punya segudang cara untuk mengejar kesuksesan?
            Ibu, anakmu sudah mati! Jiwanya lenyap bersamaan dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan tunangannya dulu.
***
            TV, kipas angin, dan kulkas, kujual sesuka hati. Aku tidak peduli dengan teriakan Ibu yang diiringi tangisan membabi butanya. Yang kutahu aku sangat butuh uang. Aku ingin rokok. Rokok, Ibu!
            21 September 2013
            Hari itu, setelah bangun kuambil sepotong roti yang ada di meja. Aku lapar. Namun, mendadak aku diam. Baru sepotong roti yang kumasukkan, aku tidak sanggup menelan. Tenggorokanku sakit. Seperti dihunjami ratusan paku. “Ah, sakit!” batinku. Gelas yang kupegangi tiba-tiba terlepas dari tangan. Pecah berkeping-keping.
            Aku runtuh. Badanku ambruk. Selang beberapa hari kemudian, kesehatanku semakin parah. Tenggorokanku semakin sakit. Terlebih batuk yang menyertainya. “Ibu, ada apa dengan anakmu?” Kupanggil-panggil nama ibu di antara desau nafasku yang begitu menyesakkan.
            Darah yang kukeluarkan dari mulutku membuat ibuku menjerit ketakutan. Lantas, Ibu mengantarku ke rumah sakit. Ya, awal Oktober kujalani opname. Dokter mengatakan aku positif mengidap kanker tenggorokan akut  karena merokok.
            Kulihat Ibu meneteskan air matanya. Air mata yang kesekian. Di antara selang infus yang melingkar dimulutku, aku merasakan bahwa ibu berubah. Badannya mulai renta. Keningnya mulai berkerut. Beberapa helai rambutnya memutih. Ibu, apa yang selama ini kulakukan?
***
            Aku menyesal, Ibu. Sungguh! Jika waktu dapat diputar, aku ingin kembali pada saat menjadi anakmu yang baik. Anakmu yang tidak membangkang. Anakmu yang selalu membuat Ibu tersenyum.
            Ibu kehabisan dana. Uangnya tidak cukup untuk membayar semua biaya rumah sakit. Aku yang masih kritis terpaksa harus menjalani kesakitan di ranjang rumah, setelah pihak rumah sakit mengusirku.
            Ibu mengurusi aku setiap hari. Tanpa mengenal jeda. Tanpa merasa lelah. Di bagian leherku telah tumbuh benjolan-benjolan yang mengerikan. Darah yang kukeluarkan setiap hari semakin banyak. Berat badanku turun secara drastis. Aku bagaikan zombi yang tulangnya menyumbul di sela-sela kulit.
             Lengkingan suaraku setiap kali batuk, selalu membuat ibu terbangun dari tidurnya. Setiap kali aku makan, ibu melumatkan makanan sehalus mungkin agar aku tidak kesusahan menelan. Setiap hari aku hanya bisa mengotori seprai tempat tidur dengan kotoran dan air seni. Ibu, tanpa mengenal lelah, tanpa pernah berkeluh kesah, selalu mengurusi semuanya untukku.
***
            Di suatu pagi, aku tidak bisa bergerak sama sekali. Dua mataku berseliweran mencari Ibu. Tepat di samping ranjangku, Ibu tengah tertidur. Tangannya memangku kepalanya. Lama, kuperhatikan Ibu. Tiba-tiba air mata ini meluncur tanpa pernah bisa kutahan.
            Dalam diamnya. Dalam hembusan nafasnya yang telah lenyap. Aku memandangi Ibu yang terkulai begitu damai.
            “Maafkan anakmu, Ibu. Kalau boleh kuminta sesuatu padamu, tolong apabila aku dilahirkan kembali, tetaplah menerima aku sebagai anakmu, Ibu...”
***
            Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis di Blog “Diary sang Zombigaret
            Sumber Gambar: www.turnbacktogod.com%2Fstop-smoking-anti-smoking-ads-part
            

           



Baca Selengkapnya ....

ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku

Posted by Unknown April 02, 2014 10 komentar

            Suatu ketika, seorang teman bertanya kepada saya dengan raut wajahnya yang tampak heran. “Sus, kamu kok tiap hari bawa notebook terus?” Ia membuang matanya ke arah tas jinjing laptop saya.
            Saya tertawa. Tak segera berkomentar. “Mau tahu kenapa?” Saya menjawab dengan nada dibuat-buat, ingin membuatnya penasaran. Sejurus kemudian, karena tidak tega membiarkannya penasaran, mulut saya membuka.
            “Soalnya, saya cinta banget saya notebook saya.”
            “Alasannya?”
***
Cinta Pertama, ASUS 201E
Cinta pertama, yang selalu mengisi hari-hari saya

            Di Era modern seperti ini, memiliki laptop atau notebook merupakan suatu keharusan. Bagi saya sendiri yang berprofesi sebagai wartawan kampus dan mahasiswa, adanya laptop bukan lagi menjadi keharusan, melainkan kebutuhan. Ya, ibarat kata seperti handphone dan kartunya. Tidak dapat dipisahkan.
            Maret 2013, saya memutuskan untuk membeli sebuah notebook. Sebelumnya saya telah bertanya ke beberapa teman serta browsing di internet untuk mendapatkan informasi. Teman saya  menyarankan ASUS Eee Pc, model notebook terbaik yang sesuai dengan kriteria yang saya ajukan. Ukuran fisik yang kecil, ringan, serta desain menarik. Saya pun mencarinya ke toko. Namun, nihil. Semua toko tidak ada stok, alasannya model Eee PC tidak lagi diproduksi.
            Saya tidak menyerah. Setelah berkeliling, saya berhenti di salah satu toko yang menjual beragam spesifikasi notebook ASUS. Tak beberapa lama, saya menemukannya. Cinta pertama dalam sekali pandang. Saya jatuh cinta kepada ASUS 201E berwarna hitam.
Menemukan Kemistri
            Sejak berencana membeli notebook, saya tidak melirik merk apapun. Di dalam pikiran dan benak saya, cuma ada ASUS. Boleh dibilang, seperti ada kemistri. Semacam ketertarikan sehingga memunculkan rasa kecocokan dan suka.
            Ketertarikan ini muncul sebagai hasil pengamatan yang saya lakukan. Di tempat saya bekerja, masing-masing anggota memakai notebook yang berbeda. Ada ASUS, Acer, Lenovo, Dell, dan Samsung. Akhirnya, karena penasaran, saya coba satu per satu.
            Bagian pertama yang saya lihat adalah ukuran. Saya tidak suka yang ukurannya besar dan cenderung berat, karena menyusahkan jika harus membawanya setiap hari. Kedua, desainnya. Keybord menjadi bagian terpenting dalam pengamatan saya. Apakah nyaman atau tidak. Dari semua merk yang saya coba hanya  ASUS dengan model Eee PC-lah yang berkenan di hati. Semua kriteria ada padanya.
            Saya lantas browsing ke internet. Mencari review yang berkaitan dengan ASUS Eee PC, seperti dugaan saya, harganya cukup untuk kantong mahasiswa. Beberapa hari berikutnya, saya meluncur ke toko.
Tak Salah Pilih
            Awalnya saya kecewa, begitu tahu model Eee PC tidak ada stok. Namun, hal itu tidak membuat saya buru-buru pindah ke lain merk. Saya tetap konsekuen terhadap ASUS. Pencarian pun dilakukan dan membuahkan hasil.
            Pertama melihatnya, saya langsung menjatuhkan pilihan ke ASUS 201E warna hitam yang ada di deretan kaca etalase. Setelah klik di hati, saya menanyakan harganya. Dan ternyata harga ASUS 201E kurang dari 3 juta, atau kisaran 2,8-2,9 juta. Saya terkejut sekaligus senang. Menurut saya, harga dan spesifikasinya imbang. Bahkan kalau boleh jujur, dibandingkan dengan merk lain dengan rentang harga yang setara, ASUS X201E lebih unggul dan memberi banyak kelebihan.
ASUS X201E selalu menemani saya ketika menulis berita

Kelebihan ASUS X201E
            Sebelum membahas mengenai kelebihannya, berikut ini akan saya tuliskan mengenai spesifikasi ASUS X201E yang saya beli selengkapnya.
            Ukuran (L x W x H cm) : 30,3  x 20 x 2,12 cm
            Berat (kg) : 1,4
            Warna : Hitam (Black)
            Ukuran Layar (in) : 11,6
            Hard Disk : 320 GB
            RAM : 4 GB
            Sistem Operasi : Free DOS
            Fitur Tampilan : HD
            Input : VGA/USB/Card Reader/LAN
            Output : 3,5 mm Jack/USB/HDMI
            Tipe Grafis : Intel HD
            Tipe Baterai : Li-Ion
            Well, sesuai janji akan saya paparkan kelebihan ASUS X201E setelah menggunakannya selama satu tahun ini.
Desain
            Hemmm, sekali lihat tampilan luar ASUS X201E, bukan hanya saya barangkali Anda juga akan merasakannya. Terpesona! Jelas, bagaimana tidak, ASUS X201E didesain sangat bagus. Pilihan warna beragam (biru, ungu, putih, dan hitam), tipis, ramping, serta bobot yang ringan membuatnya sedap dipandang dan nyaman untuk dibawa ke mana-mana.
            Ya, itu pulalah yang menjadi alasan mengapa saya senantiasa membawanya ke mana pun saya pergi. Ke kelas, di kantor, bahkan saat sedang mencari berita “reportase”. Sangat praktis dan membantu efisiensi kerja. Bayangkan saja, kalau seandainya yang saya miliki adalah laptop dengan ukuran besar, betapa menderitanya punggung dan tulang belakang saya.
            Selain itu, penempatan port-nya juga nyaman dan lengkap karena didukung oleh port generasi baru, HDMI. Pada sisi kirinya, dengan mudah dapat ditemukan power jack, RJ-45, USB 3,0 dan 2,0, dan Kensington Lock. Sedangkan bagian kanannya terdiri dari card reader, mocrophone/headphone, USB 2,0, dan VGA.
Kinerja
            ASUS X201E dilengkapi dengan processor dual-core Celeron 847 ULV yang kecepatannya mencapai 1,0 Ghz sampai 1,33 Ghz, jadi untuk urusan di kantor dan tugas sehari-hari sebagai mahasiswa seperti mengetik dan browsing sangat cepat. Bagi saya sendiri merasa diuntungkan akan hal ini. Ketika mencari referensi untuk menulis berita, saya tak perlu menunggu lama.
            Kinerja yang cepat sangat didukung oleh daya tahan baterai. Sekali diisi sampai full charge, ASUS X201E akan bertahan 3-5 jam. Kalau saya memakainya pada kondisi tersambung internet, bisa tahan 3 jam-an. Sedangkan 4-5 jam-an kalau pemakaian normal.
            Oh ya, kecerahan layar notebook ASUS X201E  juga tidak membuat mata cepat lelah. Kekontrasannya pas, meski dilihat dari sudut manapun. Selain itu, dalam urusan mengetik, keybord-nya sangat nyaman. Sehingga tulisan yang saya buat cepat selesai.
Harga dan Memori
            Harga yang diberikan untuk memiliki notebook ASUS X201E tidaklah mahal. Berkisar antara 2,8-2,9 juta. Tawaran yang menggiurkan. Tampilannya pun bisa menggunakan Windows 8, meski tanpa touchscreen. Dari sisi memorinya, jangan ditanya. ASUS X201E memiliki RAM sebesar 4 GB dan dapat diupgrade hingga 8 Gb. Menakjubkan bukan? Ditambah lagi dengan media penyimpanan hard drive-nya, suguhan penyimpanan sebesar 320 GB menanti Anda.
***
ASUS X201E notebook terbaik dan terfavoritku

            “Gimana masih penasaran, mengapa saya cinta benget sama ASUS X201E?” Saya balik bertanya kepada teman saya. Dia tampak semakin penasaran.
            “Iya. Masa ada sih notebook sekeren ini?” tanyanya sembari mengerling ke arah notebook saya. “Boleh pinjem nggak? Pengen buktiin!” Tangannya hendak meraih notebook di hadapan saya.
            “Eitts, enak aja. Nggak boleh minjem. Beli dong!” Saya membenahi notebook ASUS X201E terbaik dan terfavorit yang saya miliki. Lantas bergegas meninggalkan teman saya, sendiri.         

Baca Selengkapnya ....

Sekadar Info

Posted by Unknown Maret 31, 2014 1 komentar
Hallo,
Rubrik Info Lomba adalah lomba-lomba yang diposting sebagai bookmark pemiliknya, sebagai penanda saja. Oleh karena, saya sama sekali tidak bermaksud untuk menyaingi akun info lomba yang lain-lainnya. Terimakasih.

Baca Selengkapnya ....

Jumlah Tamu

Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of MANTRA BACA .