Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Surat untuk Kakak yang Baru Wisuda

Posted by Unknown Maret 24, 2016 0 komentar



Kak,
Di antara waktu menungguimu dirias, sempat kunyalakan leptop dan menulis sebuah surat untukmu. Jauh-jauh hari sudah kurencanakan untuk menulis sesuatu tentangmu, hanya masih sulit kutemukan angle yang tepat. Dan menurut hematku, saat menjelang wisudamu adalah pilihan yang sempurna. Jadi, kutuliskan sebuah surat ini sebagai bentuk betapa aku peduli dan menyayangimu.
Kakak perempuanku satu-satunya,
Kau adalah sarjana pertama di keluarga kita. Sang pemula. Kutahu tugasmu tidaklah mudah. Jika kau sukses itu jadi hal yang wajar. Sebaliknya, jika kau mengalami kegagalan, akan dicerca habis-habisan. Kau adalah patokan untuk tiga adikmu. Jadilah yang terbaik, maka dapat dipercaya, kelak adik-adikmu akan menjadi terbaik dari yang terbaik.

Kak, jalan ke depan tidaklah mudah,
Iya. Barangkali kau lebih tahu daripada adikmu ini. Tetapi, sebagai adik yang senantiasa mendoakan kesuksesanmu, biarlah kuperingatkan sekali lagi. Dunia ini dipenuhi dengan realitas yang selalu berbenturan dengan idealisme. Aku tahu, kau adalah orang yang sangat menjunjung prinsip-prinsip yang kau yakini itu. Hanya, saja. Jika suatu saat, kau seperti hendak menyerah dan mencari tempat bersandar. Ingat, masih ada aku, adikmu. Aku masih dapat dijadikan sandaran kapan pun, dan di mana pun. Setiap waktu selalu ingin kuringankan semua bebanmu. Karena hanya itu yang bisa kulakukan untukmu.
Kak, semoga kau tetap jadi kakak ku yang paling baik,

Kau tahu, saat namamu dipanggil di antara wisudawan lainnya, langsung leleh air mata ku. Saat orang tua kita berdiri di samping kanan dan kirimu, betapa aku juga ingin seperti itu. Kau orang pertama yang menyadarkanku, betapa hidup adalah tentang berbuat baik dan menjadi orang yang berjuang hanya di jalan kebaikan. Kejar terus mimpi-mimpimu. Jangan pantang menyerah. Dan selalu ingat, di manapun kau berada doa ku untukmu akan selalu menggema di angkasa. Insya Allah.
Terakhir, selamat wisuda! Muspita Dewi, S.Pd.

Dari Adik yang selalu menyayangi sampai akhir,
Susi Lestari

Baca Selengkapnya ....

Lima Alasan Seorang Perempuan Berubah Gaya Berpakaian. Mau Tahu?

Posted by Unknown Maret 21, 2016 0 komentar
Gaya muslimah kondangan 

Setiap manusia itu selalu berubah. Sesuatu yang berubah itu bisa dari penampilan fisik, kemantapan jiwa, cara berpikir, dan perasaan. Perubahan yang paling kentara adalah perubahan penampilan, misalnya gaya berpakaian. Bagi para perempuan, berubahnya gaya berpakaian tidak melulu dikarenakan pengin suasana baru, tetapi barangkali karena alasan-alasan tertentu. Berikut adalah alasan-alasan seorang perepuan berubah gaya berpakaiannya.

1. Bosan 
Gaya penulis 
Alasan pertama mengapa seorang perempuan berubah gaya berpakaiannya adalah karena bosan. Kebosanan terhadap penampilan sendiri sering dialami oleh perempuan, terlebih perempuan yang menginginkan citra baru terbentuk.


2. Ikut Tren
Perempuan adalah pasar nomor wahid bagi perusahaan-perusahaan. Konsumsi perempuan pada bidang fashion bahkan lebih menggiurkan dibandingkan konsumsi itu pada laki-laki. Maka tak heran, setiap waktu tren fashion selalu berganti-ganti. Perempuan yang tidak mengubah fashion atau gaya berpakaiannya dapat dianggap ketinggalan jaman atau norak.
Gaya Ibu Guru

3. Bujukan atau hasutan teman
Antar-sesama teman perempuan kalau sedang ngobrol atau sharing paling bisa membujuk dan menghasut. Suer. Perempuan adalah makhluk yang mudah terperdaya. Temannya bilang: kayaknya model berpakaian seperti ini lebih cocok buat kamu. Kamu langsung percaya. Teman satunya bilang: kayaknya model ini sangat pas buat kamu. Kamu langsung beli dan pakai. Bujukan dan hasutan seperti itu mudah banget dijumpai dalam perkumpulan ladys-ladys.
4. Perintah agama
Gaya favorit 
Agama memberikan aturan-aturan hidup di berbagai segi kehidupan, termasuk bagaimana seharusnya seorang perempuan berpakaian. Dalam agama Islam, misalnya sesorang perempuan diwajibkan mengenakan jilbab atau kerudung. Nah, ketika seseorang perempuan mulai mengerti hal-hal pokok terkait perintah berpakaian dalam agamanya, biasanya perempuan itu akan berubah gaya berpakaiannya.
5. Jatuh cinta
Jatuh cinta menjadi alasan yang
Gaya rock 
selalu masuk akal, apalagi jika dikaitkan dengan perubahan seorang perempuan dalam berpakaian. Ketika sedang jatuh cinta, perempuan dapat mengubah apa pun dalam dirinya demi menarik perhatian lawan jenis. Dari yang dulunya tidak pernah pakai rok, mendadak berubah jadi feminim. Dari yang tadinya berpenampilan urakan, tiba-tiba sling jadi anggun, rapi, dan menyenangkan.

Gaya alay 
Nah, perempuan, apapun gaya berpakaian kalian, alasan apa yang kalian gunakan sebagai pembenaran, tetaplah jadi diri sendiri. Kita punya hak untuk mengekspresikan segala perasaan kita sebagai perempuan. Selamat berubah!



Baca Selengkapnya ....

Ajaibnya Puasa Daud

Posted by Unknown Maret 04, 2016 1 komentar
Sebaik-baiknya puasa adalah puasa Daud (sumber gambar: www.google.com)

Hal paling menyebalkan dari opname bukanlah kesakitannya, melainkan melihat orang yang kita sayangi menitikkan air mata. Sepanjang aku hidup, saat aku di rumah sakit, baru kulihat Ayahku menangis. Makanya, semanjak itu sudah kubulatkan tekad untuk memperbaiki diri, memperbaiki kesehatan.
Masalah utama dalam tubuhku memang tidak terlepas dari pencernaan. Sudah jadi rahasia umum (bagi orang-orang terdekatku), mencret, sering sakit perut, sampai pingsan, gara-gara persoalan pencernaan. Berangkat dari permasalahan tersebut, aku mencoba mencari alternatif yang kupikir bisa kujalani dan bermanfaat, yakni Puasa Daud.

Keajaiban Puasa Daud
Sudah hampir dua bulanan, aku rutin puasa Daud. Ada banyak sekali perubahan-perubahan, baik itu segi fisik, mental, maupun spiritual. Berikut kujabarkan langsung saja, keajaiban-keajaiban itu. Biar barangkali, apabila di antara kalian memiliki kasus yang sama denganku dapat mencoba-coba.
Pertama, turun berat badan. Tanpa perlu menghabiskan banyak aktivitas fisik macam olah raga, puasa Daud menjadikan tubuhku sedikit kurusan. Alhamdulilah.
Kedua, setiap kali tiba jatahnya puasa, aku meraskaan ada perbedaan besar. Saat hari tidak puasa, rasanya grusa-grusu (gelisah) terus, pikiran pun tidak nyaman. Tetapi, pada saat tiba harinya untuk puasa, pikiran jadi lebih segar, buat menulis pun lebih banyak inspirasi, berasa semakin inovatif, dan kreatif.
Berikutnya, puasa Daud benar-benar membuat hati lebih tentram dan lapang menghadapi segala apapun. Saat ini aku sedang berada di ujung studi yang hanya menyelesaikan satu tugas lagi, skripsi. Tahu lah, gimana, skripsi sangat menguras waktu, tenaga, uang, dan pikiran. Tetapi, kalau nyambi puasa Daud, hati selalu tentrem dan merasa lapang, meski kadang setelah bimbingan banyak sekali coretan-coretan dari dosen pembimbing, tapi itu tetap sabar. Semua akan indah pada waktunya.
Keajaiban selanjutnya yang kurasakan setelah puasa Daud adalah selalu merasa bersyukur atas segala hal. Banyak yang berubah dari cara pandangku ketika melihat kehidupan. Bahwa apapun yang terjadi di dunia ini, jika dijalani dengan pasrah dan nrima, insya Allah membuat kita selalu bersyukur.
Hal berikutnya yang tidak kalah ajaibnya adalah tidak gampang emosian. Dalam seminggu,  bisa ada tiga kali aku berpuasa dan itu termasuk jumlah yang banyak. Kalau sedang ada sesuatu yang membuat marah atau jengkel, aku selalu ingat dan mengelus dada, “Tenang, Sus, lagi puasa.” Beberapa kata itu ampuh banget buat meredam amarah seberapa pun besar dan berkobarnya.

Nah, itulah keajaiban-keajaiban yang sudah saya buktikan dari menjalani Puasa Daud. Bagaimana dengan kalian? Ada minat untuk mencoba? 

Baca Selengkapnya ....

Puasa Daud sebagai Sebuah Alternatif

Posted by Unknown 0 komentar
Temennya lagi opname masih sempet-sempetin selfie (Guru-Guru PPL SMP 19 Semarang)

Tahun 2015 menjadi tahun penuh ujian, terutama buatku.  Pasalnya aku dua kali harus bolak-balik di rawat inap atau opname di rumah sakit. Alasannya rawatnya pun sama, pencernaan yang kolaps. Lambung limbung gara-gara kebanyakan mie instan, minuman bersoda, kopi, dan sambel. Tentu saja, pola hidup yang tidak sehat dengan menatap layar komputer berlama-lama, serta diiringi dengan begadang yang berlarut-larut, jarang olah raga, padahal mobilitasku termasuk tinggi kontan membuat imun tubuhku rontok sebagai faktor utamanya.
Sesekali merasakan opname memang perlu buat manusia. Apalagi yang pengin belajar bahwa hidup di dunia itu nggak sendirian. Pas, aku opname juga gitu. Paling benar-benar merasakan, ya, kehadiran keluarga – ayah, ibu, kakak, dan adik. Mereka tiada duanya kalau untuk urusan  temeh-temeh orang sakit. Dari mulai mengganti pakaian, nyisirin rambut, nyuapin makan, sampai urusan boker dan kencing. Kalau inget bagaimana keluarga dengan tulus ikhlas merawat, sumpah! Aku tidak akan mau diungsikan lagi ke rumah sakit. Tetapi, ya, itu. Sakit itu memang harus diobati salah satunya dengan dirawat inap di rumah sakit. Namun, ada baiknya untuk terlebih dahulu melakukan upaya pencegahan, biar opname tidak seperti piknik bulanan yang rutin ada di agenda.
Dari pengalaman bolak-balik rumah sakit yang melelahkan dan menyakitkan itu, mulai Januari 2016, aku mengambil salah satu alternatif pencegahan, yakni dengan melakukan Puasa Daud.

Puasa Daud, Sebaik-baiknya Puasa
Puasa Daud adalah puasa yang kurang familier, menurutku, dibandingkan dengan Puasa Sunah lainnya macam puasa Senin Kamis. Sudah hampir dua bulanan ini, aku menjalaninya, dan karena aturan puasanya sehari puasa sehari tidak, kadang ada orang yang menanyakan “Lah, kok hari Rabu puasa?”, “Ini hari apa, Sus, kok, puasa?” menjadi seringku dengar dari orang-orang di sekitarku. Aku hanya menjawab pelan, “Lagi puasa Daud.”
Beberapa hari yang lalu, aku mencari beberapa artikel tentang puasa Daud. Betapa kagetnya, ketika saya menemukan beberapa tagline artikel yang menyatakan; “Puasa Daud adalah Sebaik-baiknya Puasa”. Benarkah demikian?
Sudah dijelaskan di atas, kalau puasa Daud berarti sehari puasa, keesokkan hariya tidak berpuasa, dan berpuasa lagi pada esoknya. Puasa ini menurut beberapa Jumhur Ulama adalah sebaik-baiknya puasa dan derajat puasa yang paling tinggi. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al’ Ash, Rasulllah pernah berkata, “Sebaik-baik shalat di sisi Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Dan sebaik-baik puasa di sisi Allah adalah puasa Daud. Nabi Daud dahulu tidur di pertengahan malam dan beliau shalat di sepertiga malamnya dan tidur lagi di seperenamnya. Adapun puasa Daud yaitu puasa sehari dan tidak berpuasa di hari berikutnya.” (HR. Bukhari Nomor 1131)
Nah, dari hadis yang saya kutip, memang benar kan, bahwa Puasa Daud adala puasa yang sangat dianjurkan oleh Allah. Tetapi, untuk bisa belajar istiqomah menjalani puasa Daud lumayan sulit. Beberapa minggu sebelum akhirnya komitmen menjalankan puasa Daud, aku melatih terlebih dahulu tubuhku dengan puasa Senin Kamis. Alhamdulilah, sekarang masih lancar menjalankannya dan benar-benar baru dalam hitungan bulan, aku menjalani puasa Daud ada begitu banyak keajaiban-keajaiban yang muncul. Mau tahu? Simak selengkapnya di artikel ini. 

Baca Selengkapnya ....

Jangan Jadi Guru Les Privat, Mumet!

Posted by Unknown Maret 03, 2016 0 komentar


Hampir 4 tahun saya kuliah di Semarang. Saat ini sedang “asyik” ngublek-ngublek pustaka bab 2 proposal skripsi. Di antara waktu saya kuliah, hampir semua lini pekerjaan partime pernah saya geluti. Dari mulai jadi event organizer, peng-garnis di wedding party, tukang pijet, jualan, distributor buku, bantu penelitian dosen, pembina pramuka, magang di Alfama*t, penulis artikel lepas, reporter di media massa, sampai yang paling anyar jadi guru les privat. Pekerjaan yang paling akhir disebut, saya anggap sebagai pekerjaan dengan genre paling keras dan paling menguras otak. 
Tepatnya setelah resign dari Alfama*t, saya memutuskan jadi guru les. Bukan tanpa sebab sih. Sebabnya bayak; menjadi guru adalah prospek paling tepat dan benar setelah lulus dari prodi PPKn Unnes, nyari duit, dan kali saja dapat pencerahan. Dua sebab yang pertama, okelah saya terima setelah hampir setengah tahun ini saya jalani kerjaan jadi guru les privat, tetapi untuk sebab yang ketiga saya pikir ulang. Saya tidak dapat pencerahan dalam aktivitas saya menjadi guru les privat, malah yang saya dapatkan setiap hari setelah mengajar hanya tiga hal; kemumetan, kemumetan, dan kemumetan (mumet akar3) – mumet dalam bahasa Ngapak artinya pusing. 
Jadi guru les privat itu memang bergaji, meski sedikit. Lumayanlah buat tabungan beli kuota internet tree yang 4G-an. Dapat pengalaman iya. Tapi, kalau mau bener-bener diseriusi, bakalan mumet. Sama seperti yang saya alami. 
Saya tipikal guru les privat yang komit mengajar privat hanya 1 dan maksimal 2 orang saja. Berhubung dulu saya dari jurusan IPA SMA-nya, dan pas kuliah malah milih Fakultas Sosial, saya pilih aman saja. Ngelesi anak SD. 
Murid pertama saya, Abell. Siswa kelas IV SD. Kali pertama saya ngajar, sudah jatuh cinta. Anaknya luar biasa. Ndak rewel, ndak ingusan, ndak macem-macem, dan pokoknya ideal banget jadi adik laki-laki saya, haha (kalau ini saya yang ngarep). Sudah hampir setengah tahun saya jadi guru les Abell. 
Januari lalu, setelah merampungkan perhelatan akbar macam PPL dan KKN, saya memutuskan ambil satu lagi murid. Tetap anak SD. Fardhan namanya. Murid kelas 1 SD. Rumahnya di Daerah Ngijo, lumayan dekat kampus, kali pertama ditawari HRD, saya langsung deal. Jadilah selama 4 hari dalam seminggu, saya bolak balik ngajar dua anak ini. 
Ada satu hal yang memang menjadi faktor utama mengapa Anda jangan sekali-kali mencoba-coba jadi guru les privat. Setiap anak selalu membawa pertanyaan masing-masing, yang bagi saya pertanyaan itu bukan pertanyaan biasa. Mereka bertanya tentang hakikat hidup paling sederhana tapi bermuatan filosofis ektra-besar: pertanyaan untuk mengenal Pencipta (Tuhan) dan untuk memahami sesama (Manusia). 
Dari murid kelas 1 SD saya mendapat pertanyaan demikian menyentak. 
“Allah itu ada, Bu?” 
Saya lirik-lirik tivi. Mikir sebentar, kok Fardhan tiba-tiba nanya kayak gitu. “Iya. Ada,” kata saya pendek saja. 
“Berarti Allah dilahirkan, Bu? Kayak aku juga lahiran. Ibunya siapa, Bu, Allah itu? 
Ada cicak lewat di dinding. Saya pandangi. “Hemmm,...” saya mikir lumayan lama. 
Ya, saya kemudian menjawabnya dengan jawaban yang menurut saya maksimal. 
Hari berikutnya, pertanyaan “nyeleneh” itu datang lagi. 
“Bu, katanya Allah itu Maha Besar, berarti kayak raksasa dong?” 
Pukul 8 malam di tengah-tengah menahan terpaan kantuk luar biasa, saya harus menjelaskan tentang ke-Maha Besaran Allah kepada anak kelas 1 SD. Kalau di perkuliahan, bisa saya menjawab dengan argumentasi teologis mengenai konsep ke-Tuhan-an untuk membuktikan keberadaan Allah yang Maha Besar. Di teman-teman kuliah atau forum diskusi dengan sesama mahasiswa, mudah saja saya bilang begini: Allah dapat didefinisikan sebagai ‘sesuatu yang paling besar yang dapat dipikirkan’. Dinyatakan bahwa “ada” itu lebih besar dari “tidak ada”, karena itu keberadaannya yang paling besar tentu dan haruslah “ada”, tidak bisa dipungkiri. Kalau Allah tidak ada, maka Allah bukanlah keberadaan terbesar yang dapat dipikirkan. Memang mudah menjawab itu, tapi yang saya hadapi adalah anak kecil yang sedang membangun konsep ke-Tuhan-annya. Saya berpikir, kalau misal Fardhan mendefinisikan “paling besar” sebagai raksasa, maka itu adalah definisi yang bisa dia pahami untuk saat ini. Karenanya, saya jawab dengan amat sederhana pertanyaan “ngehek”nya. 
“Kalau Fardhan beranggapan raksasa adalah yang paling besar, maka sebesar itulah Allah bagi Fardhan.” 
Pada hari-hari selanjutnya, saya masih kerap ditanyai pertanyaan “nyeleneh” anak kecil. Sampai akhirnya saya men-justice diri saya, “Saya tidak pantas jadi guru les. Saya sudah tidak bisa menjawab pertanyaan anak kecil lagi.” Ada beberapa pertanyaan tentang Tuhan yang tidak bisa saya jawab, sampai saat ini. 
Pada diri Abell, saya jumpai pertanyaan “mumeti” serupa pertanyaan Fardhan. Abell yang sudah lumayan dekat dengan saya, memang kerap mempertanyaan hal-hal out of the box, di luar apa yang saya pikirkan dapat ditanyakan oleh anak seusianya. 
Pertanyaan “nyeleneh” Abell disampaikan bertepatan dengan Jakarta yang pada saat itu sedang di landa teror bom. 
“Kak, kenapa orang meledakkan dirinya dengan bom? Kalau misalnya dia adalah penjahat, mengapa tidak mencopet saja biar dapat uang. Kalau meng-ebom kan yang didapatkan hanya kematian. Kan rugi?” tanyanya usai ngaji iqro jilid 4 bareng saya. 
Haduh! Revisi skripsi saja masih di pelupuk mata pusingnya, dan dari Abell saya malah ditanyai pertanyaan yang, yah, pertanyaan macam apa itu, Bell? Menjawab pertanyaan Abell tentu tidak akan saya jelaskan kaitan bom bunuh diri dengan pengalihan isu Freeport, jihad fisabililah, atau penyebab inflasi. Dijelaskan dengan penggunaan kosakata seperti itu hanya akan membuat Abell makin sering bertanya. 
Anak kecil, meski pertanyaannya tidak sederhana seperti yang mereka pikir, mereka selalu menuntut jawaban sederhana yang dapat ditangkap oleh pemikiran mereka. Itu hukumnya. Dan saya sulit untuk tidak melanggar hukum itu. 
Saya bukanlah pencerita yang baik. Tidak dapat menceritakan sesuatu dengan kalimat sederhana. Institusi pendidikan yang saya berada di dalamnya, mengajarkan saya untuk lebih banyak menghafal, dibanding untuk dapat membuat konsep akan sesuatu dengan formulasi bahasa sendiri. Jadilah, saya orang paling pengecut, dengan menggunakan dalih sebagaimana layaknya guru yang belum mempersiapkan materi ketika mengajar. 
“Nanti kakak cari tahu jawabannya. Besok kakak jelasin, ya, Bell.” 
Gegas, ketika saya pulang. Saya mencari beberapa buku yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan Abell. Dalam proses pencariaan buku-buku itu, saya lebih banyak merenungnya. Dan inilah pesan moral yang ingin saya sampaikan. 
Kelak, ketika saya sudah punya anak. Tidak akan pernah saya bayar seorang guru les untuk mengajari anak saya. Saya takut, mereka (guru les privat) menjawab pertanyaan-pertanyaan anak saya dengan “ngawur” tidak berdasar, menyesatkan. Guru les privat itu banyak kan dari mahasiswa. Kalau urusan duit, memang tidak diragukan. Tetapi untuk menanggapi pertanyaan anak kecil, saya pikir masih kurang (termasuk saya, hehe). Kecuali, satu hal. Guru les itu berasal dari lembaga les privat yang akan saya dirikan (haha: kalau ini keinginan; bisa terwujud, bisa tidak). Niatnya, memang ingin mendirikan lembaga privat dengan penguatan karakter. 
So, curhat nggak jelas bin njlimet ini memang sengaja saya tulis panjang, biar tidak ada yang baca. Tetapi, kalau pun ada yang baca, berarti pikirannya sama “mumet”nya dengan saya. 
Jangan ngaku “mumet”, kalau belum baca tulisan ini.

Ditulis bertepatan dengan malam Minggu, 
oleh penulis yang tadinya mau nulis revisi skripsi, tetapi pindah haluan untuk nulis curhatan.

Baca Selengkapnya ....

Sebuah Catatan di Penghujung Ramadan

Posted by Unknown Agustus 29, 2014 0 komentar

Penghujung Ramadan 2014,
            Break menulis selama tiga bulan ternyata melelahkan. Sendi-sendi otak rasanya kaku. Perasaan rindu akan rutinitas dengan lepi tercinta meruak. Kenangan masa lalu, muncul kembali. Tentu, kenangan tentang janji yang pernah terucapkan di Bromo. 
            Empat bulan lalu, pernah kubuat sebuah komitmen untuk menyelesaikan “bakal” novelku yang pertama. Nyatanya, rutinitas seperti facebookan, kuliah, dan berorganisasi lebih menyedot waktu dan selalu kuprioritaskan. Alhasil, aku gagal memegang komitmen itu.
            Kegiatan menulis, hingga kini, bagiku masih bergantung mood. Kalau sedang baik, puluhan lembar bisa didapat dalam sehari. Sialnya, kalau mood jelek, bisa tiga bulan aku tidak nulis. Ya, kayak yang saat ini aku alamin.
            Profil ini sengaja kutulis dengan berbagai alasan. Yang jelas bukan untuk menyombongkan diri atau bahkan berbuat ria. Sama sekali tidak. Profil ini, kutulis agar aku memiliki arsip tentang hal-hal apa saja yang telah kudapat dari menulis. Arsip ini, kelak, jika aku sedang malas menulis akan menjadi sebuah cermin. Ia akan memberitahu bahwa aku-Susi Lestari, pernah mendapatkan beberapa keberhasilan dari menulis, yang yah tidak seberapa, tetapi memiliki makna yang luar biasa bagiku. Arsip ini sebagai salah satu wujud perlawanan terhadap rasa malas dan sikap anti-gagal.
            Berikut adalah profil dan arsip tentang Susi Lestari dalam hal tulis-menulis.
            Nama Susi Lestari tidak begitu terkenal dalam belantika tulis-menulis Indonesia. Orang yang mengenalnya hanya tahu bahwa Susi Lestari adalah mahasiswa prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) yang mempunyai hobi menulis. Organisasi yang diikutinya juga mencerminkan kesukaannya, Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M) Unnes.
            Seingatnya, tulis menulis telah menjadi kesukaan Susi sejak SD. Sewaktu ia kelas lima SD, ia menjurai lomba mengarang tingkat Kecamatan Bulakamba. Selepas lomba, kesukaannya menulis mati suri. Butuh waktu enam tahun untuk Susi memulai dari awal lagi.
            Tahun 2012 menjadi tahun yang tidak akan terlupakan. Seingatnya, maaf karena ia memang mempunyai ingatan yang parah tentang nama dan tanggal jadi seingatnya terus dari tadi, ia bertekad untuk menulis lagi. Sebuah novel setebal 150 halaman, berhasil diselesaikannya dalam waktu enam hari. Novel itu  diikutsertakan dalam lomba yang diadakan oleh salah satu penerbit indie yang ada di Jakarta. Meski gagal, lomba itu telah memberikan sebuah makna mendalam.
            Setiap orang memiliki jatah gagal, dan Susi telah bersiap untuk menghabiskannya. Hari-hari yang dilaluinya sebagai mahasiswa selalu dipenuhi dengan ide-ide untuk menulis. Materi perkulihan ia kesampingkan. Pokoknya ia selalu ingin menulis.
            Sampai saat profil ini selesai ditulisan, berikut adalah capaian-capaian dari Susi Lestari:
1.    Peserta Pelatihan Menulis Kampus Fiksi Diva Press di Yogyakarta. Untuk mengikuti pelatihan ini, harus melalui seleksi terlebih dahulu. Cerpen Susi Lestari yang berjudul “Sekeping Senja untuk Ani” berhasil mengantarkannya sebagai peserta angkatan V.
2.      Masuk ke dalam “Dua Puluh Tiga Penulis Terbaik” dalam Lomba Menulis Guru-Guru Inspiratif Tahun 2013 yang diadakan oleh Universitas Negeri Jambi dengan cerpen berjudul “Aku Bukan Pecontek”. (Dibukukan)
3.  Masuk ke dalam “Sepuluh Penulis Terbaik” dalam Tidar Fiction Festival yang diselenggarakan oleh Universitas Tidar Magelang Tahun 2014 dengan cerpen berjudul “Melukis Senyum”. (Dibukukan)
4.   Masuk Ke dalam “Delapan Penulis” dalam antologi Move On yang diterbitan oleh penerbit GSB Bandung. Cerpennya berjudul “Senja Terakhir”. (Dibukukan)
5.      Juara Pertama Lomba Menulis Inspiring True Story bertema Kisah Gokil Phobia dan Antisipasinya yang diadakan oleh Sedamai Lazuardi dengan cerpen berjudul “Makhluk dalam Gulungan Daun”. (Dibukukan)
6.  Pemenang utama Lomba Menulis Cerita Pendek  bertema Ceritain Cinta yang diadakan oleh Public Event dengan cerpen berjudul “Tiga Hari Mengejar Cinta Dion”.
7.  Masuk ke dalam “Tiga Puluh Penulis Terbaik” dalam lomba menulis  bertajuk perjalanan yang diadakan oleh Forum Aisiteru Menulis (FAM) Jabodetabek dengan artikel berjudul “Edelwies di Bromo”.
8.      Pemenang Giveaway yang diadakan oleh Reza Nufa tahun 2013.
9.      Pemenang Giveaway yang diadakan oleh Nadine Zulianty Saputri tahun 2013.
10.  Pemenang Giveaway yang diadakan oleh Annisa Romadona tahun 2013.
11.  Pemenang Lomba Menulis Cerpen Mudik 2013 yang diadakan oleh Kinomedia Writer Academy dengan judul cerpen “Mudik Tahun 2013 untuk Emak.”
12.  Cerpen “Lelaki Senja dan Sepucuk Surat Berwarna Kuning” akan diterbitkan oleh BP2M dalam Tabloid Nuansa Edisi 133.
13. Pemenang Lomba Menulis Go Green yang diselenggarakan oleh Ebookland dengan judul cerpen "Gadis Aneh dan Pengusaha Sablon."
14. Masuk ke dalam "Delapan Penulis Terbaik" Lomba Menulis Superhero yang diadakan oleh Penerbit Panji dengan judul cerpen "Tiga Hero."
15. Masuk ke dalam "60 Penulis Terbaik" dalam Lomba Menulis Pengagum Rahasia Penerbit Kunci dengan judul cerpen "Love Letter yang Gagal."
            Masih sedikit sekali capaian-capaiannya dalam bidang menulis. Susi berharap sebelum menyelesaikan studi S1, telah mempunyai buku solonya. Amin.



Baca Selengkapnya ....

Jumlah Tamu

Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of MANTRA BACA .