Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Dia yang Kupanggil Bapak

Posted by Unknown Maret 24, 2016 0 komentar

Ada seorang laki-laki yang di dunia ini selalu kusebut namanya ketika ketakutan melanda.
Ada seorang laki-laki yang selalu bisa kurepotkan dalam banyak hal.
Dia tidak pernah mengeluh, pun meminta kembali.
Lelaki itu, kupanggil bapak.

Pak,
Empat putrimu mulai beranjak dewasa. Dibandingkan seratus anak laki-laki, merawat satu anak perempuan benar-benar sulit. Maka, jika putri-putrimu ini tumbuh dan besar  menjadi wanita yang shalehah, baik, dan sukses sesuai dengan keinginanmu, kelak di akhirat jangan malu menghadap Tuhan-mu.  
Bapak satu-satunya yang paling kusayang,
Kemarin, putri pertamamu, wisuda. Dia akan memasuki pintu kehidupan paling nyata. Setelah wisuda, ada beragam pilihan yang bisa putrimu  pilih dan lakukan. Tetapi, seperti biasa dengan diskusi singkat satu keluarga, kau mengatakan: “Aku hanya ingin putri-putriku bahagia. Jadilah seperti apapun yang kalian suka. Tetapi, ingat jangan pernah mengecewakanku dengan tindakan kalian yang mencoreng nama keluarga.”
Hanya itu pesanmu dan kulihat matamu sudah berkaca-kaca. Lantas seperti biasa aku hanya bisa menatapmu dalam diam. Selalu, pak.
Bapak paling hebat se-semesta,
Di dunia ini, sepanjang aku mengenal laki-laki. Kau masih satu-satunya yang paling kukagumi. Kau menjadi rekan diskusi paling nyaman  bagiku. Tempat meminta uang paling mudah bagiku. Guru dengan pemikiran terbuka, demokratis,  dan toleran. Laki-laki paling bisa diandalkan dalam duniaku yang rentan bermasalah. Dan, sepanjang aku hidup, kau akan jadi laki-laki dengan nama paling banyak kusebut dalam doa.
Terima kasih, telah jadi bapakku,
 Aku tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi bapakku, tetapi ditakdirkan menjadi putrimu adalah hal paling membahagiakan untukku. Kalau dimungkinkan aku lahir kembali, mengalami renkarnasi, semoga aku ditakdirkan menjadi putrimu kembali, pak.
Maaf, jika aku punya banyak salah,
Aku tahu, sebagai putri dari ayah sehebat engkau, aku masih memiliki banyak kekurangan. Dari  itu, terus bukalah pintu maafmu, untukku. Jadilah ayah pemaaf, seperti biasanya. Dan aku akan terus memperbaiki diri agar menjadi putri yang bisa membanggakanmu. Setiap waktu. Setiap saat.
Pak, ini permintaanku,
Teruslah hidup sampai aku memiliki kesempatan untuk membalas semua yang kau berikan untukku. Meski aku tahu, jika aku serahkan apapun yang kumiliki, tidak akan sanggup membayar segala yang telah kau lakukan. Pak, semoga kau masih terus ada di sisiku. Melalui hari-hari baik suka maupun lara. Jaga kesehatan dan jangan lupa untuk terus bahagia, pak.

Dari anakmu yang senantiasa mengirimkan sepenggal doa

agar engaku terus bahagia, selamanya. 







Baca Selengkapnya ....

Empat Tipikal Orang dalam Mengungkapkan Cinta (Based Story From Novel Eternal Flame)

Posted by Unknown Maret 21, 2016 0 komentar

Jatuh cinta itu dua kata dengan sejuta makna. Sulit untuk mendefinisikan dua kata itu. Tetapi, yang jelas meski sulit dijabarkan dengan untaian kata, setiap orang dalam waktu di mana dia hidup, paling tidak pernah merasakan jatuh cinta. Namun, walau sama-sama pernah merasakan jatuh cinta, setiap orang memiliki cara berbeda untuk mengungkapkannya. Dalam Novel Eternal Flame terdapat empat jenis tipikal orang dalam mengungkapkan rasa cintanya.
1. Diam-diam menyimpan rasa
Tipikal mengungkapkan cinta yang pertama adalah secara diam-diam. Maksudnya, ketika kamu jatuh cinta baik itu karena tuntutan agama, ketakutan pribadi, ketidakberanian, atau pun karena alasan lain, memilih untuk hanya diam. Diam melantunkan sepucuk doa di tengah-tengah malam. Diam, dan hanya sebatas memandannya dari kejauhan. Meski begitu, orang dengan tipikal ini percaya, mencintai seseorang dalam diam apabila jodoh tetap akan dipertemukan dalam alur cerita paling indah.
2. Terang-terangan menyatakan
Tipikal selanjutnya adalah terang-terangan menyatakan kepada seseorang yang disuka atau dicinta. Orang dengan tipikal ini percaya bahwa rasa cinta layak diperjuangkan dan tanpa perlu malu untuk menyatakannya. Jika tidak segera dinyatakan secara terang-terangan, takutnya orang itu semakin jauh dan lepas dari genggaman tangan.
3. Berkoar-koar dalam menyatakan

Berkoar-koar menyatakan rasa cinta diperuntukkan bagi orang yang memiliki kepercayaan diri seluas semesta dan sebesar jagad raya. Orang dengan tipikal ini tidak hanya berani menyatakan kepada sang pujaan hati, melainkan mengumumkan kepada dunia, bahwa dia sedang jatuh cinta kepada seseorang.
4.  Mematahkan sendiri rasa cintanya

Tipikal terakhir adalah seseorang yang belum menyatakan sudah mematahkan sendiri rasa cintanya. Biasanya tipikal orang ini memang lebih tepat disebut sebagai tukang kebun. Sering banget mematahkan tunas yang baru saja akan tumbuh. Orang dengan tipikal ini biasanya adalah orang yang lebih mencintai dirinya sendiri dibandingkan dengan mencintai orang lain. 

Baca Selengkapnya ....

Apa yang Dipikirkan Laki-Laki Selain Seks? Tidak Ada!

Posted by Unknown Maret 20, 2016 0 komentar


Ada satu buku paling ngehek sepanjang saya mengenal buku. Buku itu ditulis dengan judul yang menyentak seperti petir di siang bolong, What Every Man Thinks About Apart From Sex – Apa yang Dipikirkan Setiap Pria Selain Seks. Tentu dari judulnya, baik laki-laki maupun perempuan penasaran. Terlebih setelah melihat jumlah halamannya mencapai 200. Kok selain seks, yang dipikirkan laki-laki sebanyak itu?
Buku yang ditulis oleh Profesor Sheridan Simove ini telah menjadi bestseller. Laku keras di kalangan mahasiswa Inggris. Selain judulnya yang menyentak, isinya tidak kalah cetar. Dari 200 halaman yang ada, tidak ada satu pun kata yang tertulis. Isi buku itu kosong. Melompong.
Seperti yang dilansir Tempo.co, Sheridan Simove mengatakan, “Buku ini adalah hasil dari 39 tahun penelitian melelahkan dan studi praktis tentang subjek itu (laki-laki). Saya tidak menyisakan apa pun dan benar-benar melemparkan diri saja ke dalam pekerjaan meneliti.”
Setelah rampung meneliti, Simove menambahkan bahwa setelah bertahun-tahun kerja kerasnya, akhirnya dia menyadari bahwa laki-laki tidak memikirkan apa pun selain dari seks. Baginya itu adalah kesimpulan yang mengejutkan dan dia menyadari bahwa dunia harus diberitahu tentang hasil penelitiannya itu.

Mengapa Hanya Tentang Seks?

Satu kata yang dapat mewakili, itu semua karena ulah: Testosteron.
Testosteron adalah hormone steroid dari kelompok andogen. Penghasil utama testosterone adalah testis pada jantan dan indung telur (ovum) pada betina. Testosteron adalah hormon seks.

Baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama menghasilkan horman testosterone. Yang membedakan hanya segi jumlah yang dihasilkan. Laki-laki rata-rata meniliki sepuluh sampai seratus kali lipat lebih banyak testosteronnya, dibandingkan dengan perempuan. Perbedaan jumlah yang besar iniah, , kemudian membuat semua laki-laki sering berpikir tentang seks setiap waktu. Kecepatan memikirkan seks laki-laki menurut suatu hasil penelitian mencapai 52 detik sekali pada saat laki-laki berumur 20 – 30 tahun. Apabila seorang laki-laki tidak memikirkan seks yang terjadi akan berbahaya baginya, seperti mendapat tekanan dalam gonad dan prostat mereka. So, apakah pikiran laki-laki yang melulu tentang seks adalah sebuah takdir, berkah, atau musibah, silakan para perempuan menilai sendiri. 

Baca Selengkapnya ....

Review: Film Comic 8 Casino Kings Part 2

Posted by Unknown Maret 18, 2016 0 komentar



Berangkat bareng tiga jomblo lainnya, naik motor ke CL, kami kemudian langsung membeli empat tiket film Comic 8 Casino Kings Part 2. Lumayan ramai yang nonton, karena besoknya sudah weekend merayakan Nyepi. Karena nonton di jam yang lumayan malam, kami bisa dpaat kursi strategis, paling belakang. Sebenarnya, acara nonton film sudah direncanakan, setelah sebelumnya kami nonton film Comic 8 Casino Kings Part 1-nya.

Kalau ngomongin tentang film, paling enak memang nonton di bioskop yang genre-nya kalau nggak horror, ya komedi. Kalau genre yang mellow-melow itu enaknya ditonton di kamar, sendirian, sambil sediakan tisu beberapa lembar. Mau ngomongin tentang film ini, apalagi alaurnya, kayaknya spoiler banget. Tetapi, karena memang ini adalah review film jadi nggak papa lah, ya, sedikit, sedikit spoiler.

Film genre komedi-aksi besutan sutradara Anggy Umbara ini, adalah lanjutan dari film Casino King sebelumnya. Pembukanya langsung disuguhkan aksi percakapan Bang Indro, Cyntia, sama Security Bang Indro, terus tiba-tiba ada pesawat yang memborbardir rumah Bang Indro. Jadilah pertarungan sengit, yang ujung-ujungnya adalah ketiga orang tersebut diculik dan sling, muncul di suatu arena tinju.
Pembukaan yang menegangkan kemudian disusul dengan aksi perkelahian delapan agen dengan para Hunter (pemburu) di pulau rahasia. Pokoknya perkelahiannya konyol banget, apalagi yang ada kelek-keleknya gitu. Naudzubillah.
Part per part film ini didominasi sama perkelahian. Perkelahian dengan effect paling bagus, ya itu pas adegan Bella dan Cyntia. Dua-duanya seksi banget. Terus paling konyol, tetep! Babe Cabita sama Mad Dog (pas bagian upilnya bener-bener PECAH). Di film ini juga ada part LGBT, di mana seorang laki-laki yang suka laki-laki akhirnya memutuskan untuk transgender, dan transgendernya jadi The Queen, Sophia Latjuba.

Ending film ini nge-twist banget. Suer. Nggak tebak siapa musuh sebenarnya. Terus para agen juga masuk penjara. Parahnya bareng The Queen juga. Haha.
Anyway meski kadang ada seen yang kayak film rahasia iliahi gitu (tiba-tiba muncul elang sama buaya besar) yang nggak tahu apakah itu bentuknya kartun atau gimana), over all, film ini lumayanlah bisa jadi pilihan untuk menemani hari-hari Anda yang kurang tawa.



Baca Selengkapnya ....

Review: Seekor Bebek yang Mati di Pinggi Kali Karya Puthut EA

Posted by Unknown Maret 08, 2016 0 komentar


Nama Puthut EA sebagai penulis cerpen, saya tahu baru-baru ini. Pasal pamor Puthut EA yang meletup-letup baru terasa setelah website besutannya, mojok.co, menjadi website paling kece sepanjang tahun lalu, dan saya adalah salah satu penikmat artikel-artikel yang ditulisnya di mojok. Artikelnya penuh metafora seperti kepolosan seorang anak yang tidak bisa diganggu gugat. Dan ciri khas itulah yang saya temukan saat membaca 15 cerita pendek dari buku kesekian Puthut dalam antologi “Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali”.
Dari judul yang dipakai, saya pikir bakal menemukan cerita-cerita romantis, atau paling tidak menggiurkan tentang seekor bebek yang mati di pinggir kali karena di sembelih, kemudian dijadikan sate, tongseng, atau penyet. Ternyata tidak. Rata-rata cerita menyajikan wacana dengan kamuflase simbol binatang-binatang polos macam bebek dan beruang. Semakin dibaca, semakin merasa ngeri tur tidak bisa menolak suasana untuk turut marah, prihatin, dan kadang menyesal.
Bahasa yang digunakan Puthut sangat sederhana dan jernih. Biasanya menggunakan sudut pandang “aku”. Aku yang dipakai Puthut adalah anak kecil yang sangat polos dengan pikiran-pikiran mereka yang sederhana. Beberapa waktu misalnya, setelah membaca cerpen yang berjudul “Doa yang Menakutkan”, “Di sini Dingin Sekali”, saya terhenyak dan menarik napas dalam-dalam. Saya merasa beruntung  lahir  di era reformasi – di mana hak-hak pendidikan, beragama, berpendapat, sedikit membaik penegakkannya – dibandingkan dengan era sebelum-sebelum reformasi.
Puthut dalam beberapa cerpennya di antologi ini seperti ingin memberikan perlawanan terhadap Rezim, entah rezim apa. Sesekali juga menampakkan kebencian terhadap  gerakan komunis, meratapi kengerian terhadap Gerwani, marah terhadap kekejaman para tentara Indonesia yang menganiaya perempuan, dan sangat kentara sekali mengangumi sosok, Pramoedya Ananta Toer. Dan kadang menuliskan cerpen perihal umbe rumpe kehidupan, macam “Sambal Keluarga”, “Obrolan Sederhana”, dan “Bunga Pepaya”.
Tema besar yang mengusung kebencian terhadap gerakan komunis, terdapat dalam beberapa cerpen yang berjudul “Koh Su” – seorang pedagang nasi goreng  legendaris yang hilang, kemudian dalam cerpen “Rumah Kosong”, Puthut berhasil mengdeskripsikan peristiwa kekejaman komunis dalam salah satu paragraf penuh analoginya.  
            Kemudian kami menemukan sebuah permainan yang sangat mendebarkan. Setiap sabtu sore, kami membagi diri menjadi dua kelompok, kelompok PKI dan kelompok Tentara. Sebelum Maghrib, kelompok PKI bertugas memasukkan dedaunan ke dalam beberapa tas kresek berwarna hitam. Benda-benda itu kemudian harus dimasukkan ke dalam Sumur Lubang Buaya, di belakang rumah kosong itu. Saat itulah yang merupakan detik-detik menegangkan bagi kelompok PKI, memasukkan plastik-plastik ke dalam sumur menjelang Maghrib (hlm. 132).
Piasnya, satu paragraf penuh analogi itu diceritakan oeh segerombolan anak kecil ketika sedang bermain. Untung saja, Puthut tidak memasukkan syair “Genjer-Genjer” sebagai pelengkap permainan. Kalau sampai seperti itu, akan menjadi deskripsi yang hampir mirip aslinya.
Terkait dengan kekaguman Puthut terhadap Pramoedya Ananta Toer, saya memberikan tabik  penuh kepadanya. Lewat cerpen “Rahasia Telinga Seorang Sastrawan Besar”, barulah saya mendapat sesuatu gambaran lain tentang sosok Pram. Pram, penulis besar yang pernah dimiliki Indonesia dalam sejarah. Sosok yang sudah dimitoskan oleh pengagum-pengagumnya, sosok yang hingga kini masih menjadi fenomenal karya-karyanya, yang dalam hidupnya hanya ada satu kata yang membuatnya terus hidup – melawan. Melawan kekejaman, ketidakadilan, melawan apapun yang bisa dia lawan.
Ah, Pram, bahkan takdir membuat saya harus lebih banyak mencari tahu tentangmu. Barang kali, kau ingin mengajari untuk melawan juga. 

Di pertengahan siang menuju sore, sekitar pukul 15.00 WIB, 2 Maret 2016, sepanjang saya hidup dan membaca, hanya ada dua cerpen yang bisa membuat saya menangis – sejadi-jadinya. Pertama, cerpen “Robohnya Surau Kami” karya A.A Navis. Saya turut berbela sungkawa atas kematian kakek penjaga mushala karena kena kibulan Ajo Sidi. Kedua, ya, itu, cerpen “Rahasia Telinga Seorang Sastrawan Besar”. Usai membacanya, satu jawaban terkait rahasia telinga Pram, hanya mampu menyisakan tangis bagi saya – lainnya tidak.
Ada salah satu paragraf kiasan yang begitu menggelitik tentang Pram, tetapi di cerpen yang berbeda “Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali” yang membuat saya buru-buru browsing.
Begini narasinya.
            Ia menarik uang itu, mengembalikan ke dompetnya, lalu mengeluarkan uang dua puluhan ribu tiga lembar. “Mungkin kamu tidak  mau karena menukar buku Pram dengan uang bergambar musuhnya,” ucapnya sambil kembali menyelipkan uang ke sakuku lagi.
Uang dua puluhan ribu hingga saya selesai menuliskan review antologi ini, masih terus saya cari siapa gerangan pahlawan bangsa yang tercetak. Apa kaitannya dengan Pram? Dan bagaimana Puthut bisa mengatakan bahwa dia adalah musuh Pram?
Secara keseluruhan, antologi ini sangat bagus. Dari skala A, AB, B, BC, C, dan D, saya memberikan nilai AB karena A adalah milik Tuhan, AB adalah milik orang-orang yang menginspirasi saya, dan B adalah milik saya.



Baca Selengkapnya ....

Dee Lestari, Aku Patah Hati

Posted by Unknown Maret 03, 2016 0 komentar

Sudah kuhabiskan hampir separuh dari gaji bulananku, untuk membeli episode terakhir dari bukumu, Dee Lestari, Supernova – Intelegensi Embun Pagi (IEP). Untungnya bertanda tangan, jadi paling tidak aku memiliki bekas guratan penamu, Dee. Aku sama sekali tak menyesali, meski paling tidak harus beberapa hari nambah kuota puasa di bulan Maret dan sedikit prihatin memilih lauk makan.  Dan bukan untuk bukumu saja. Kamu tahu, Maret baru menyentuh angka 3, dan aku sudah membeli sekitar 15 buku. Itu pembelian terbanyak sepanjang aku hidup. Dalam tiga hari.
Dee, aku tidak tahu apa yang sudah kamu alami di dalam hidupmu yang belum tua-tua amat. Pengalaman-pengalaman seperti apa yang bisa membuatmu secermelang itu, imaji-imaji seberapa liar yang kamu tumbuh-kembangan dalam tempurung kepalamu yang hanya segenggaman tangan itu dan kaum harus tahu! Kamu menjadi salah satu penulis, yang membikin pembaca karyamu - lupa makan, lupa tidur, lupa skripsi, ya, beberapa lupa, baru ingat setelah menggenapkan semua tulisanmu sampai ke pucuk-pucuknya, tetapi tenang, Tuhan masih bersamaku. Dan aku belum lupa.
Di bukumu, IEP, ada satu yang paling menggelitik bulu kuduk, sampai remang aku membacainya. Pas bagian Elektra menelfon Watti. Itu, loh, yang pas di Surga, kamu lihat Tuhan yang mana? Apakah itu menjadi salah satu pertanyaan dalam hidupmu juga?
Ampun. Bergidik, aku melalafkan pertanyaan itu. Tetapi itulah, bukan Dee namanya kalau dalam setiap lembaran tulisannya tidak membuatku haru, tangis, kaget, bahagia, terkejut, dan perasaan-perasaan lain yang barangkali tidak bisa kuungkap dengan bahasa, seperti yang kamu katakan, ada dimensi lain yang tidak bisa dijelaskan dengan kode-kode lingustik. Bahasa tidak sanggup menampung itu semua.
Tuntas sudah semua seri Supernova kubacai – tentu saja, menjadi seri yang bersejarah di hidupku, yang kutempatkan sejajar dengan Tetralogi Buru, Harry Potter, dan Ronggeng Dukuh Paruk, keempat-empatnya punya tempat tersendiri di sini, hatiku. Hanya saja, usai menuntaskannya, aku ingin kamu tahu, Dee.
Aku patah hati. 
Sebagai penikmat karya kamu, aku harus dipaksa untuk merasakan patah hati, lagi dan lagi, di saat-saat menyentuh lembar terakhir dari buku yang kamu buat hampir 15 tahun itu. Dee, aku, iki, loh, cuma baca. Tapi, patah hatinya tidak tahu sampai kapan akan sembuh, kempes, terus bangkit, lantas gimana dengan kamu?
Aku tidak bisa bayangin. Pasti sakit sekali. Merasa kehilangan, tetapi tidak tahu apa yang hilang.  Mereka hanya rekaan.
Oh, ya, terakhir ini. Salam, ya, buat Mas Bodhi. Kalau yang peretas lainnya kamu buat berpasang-pasangan, kurasa membuat Mas Akar sendirian adalah pilihan kejam, Dee. Padahal di gugus lain, masih ada aku. Masih full, belum parttime.
Kalau kamu kasih ijin, Dee, boleh, ya, Mas Bodhi nemenin sebentar di kosku. Ya, lumayan buat penglipur kalau ada coretan merah-merah dari Dosen yang kadang bikin ruwet mood atau buat apalah ngancani makan di Penyetan. Dipinjemin gitu barang sebentar, tak apa. Sebelum Mas Bodhi menuntaskan misinya melindungi Peretas Puncak, ijikan dia singgah sebentar di kosku, sampai Juli, paling tidak. Aku tidak muluk-muluk banget, Mas Gio, Mas Alfa (alm), Mas Toni, apalagi Bang Ferre, biar hidup di sisimu, satu buatku, tidak apa-apa, kan?
Ya?
Oh, ya, ini aku tulus banget. Untuk kamu, Dee, semoga selalu sehat di mana pun berada. Semoga nama belakang kita yang sama ‘Lestari’ mampu menjadi pendorongku untuk bisa berkarya sehebat karyamu. Selamat vakum sebentar, sebelum kembali menulis lagi, Dee.
Salam,
SL (Not Superlove) – Just, Susi Lestari



Baca Selengkapnya ....

Review Antologi Mengejar Angin Kategori Mahasiswa

Posted by Unknown Agustus 13, 2014 3 komentar
    

            Akhirnya janji untuk membuat riview Antologi Mengejar Angin kategori mahasiswa dapat kupenuhi. Oh, ya, dibandingkan dengan cerpen kategori pelajar, cerpen-cerpen kategori mahasiswa lebih bervariasi. Baik cara bercerita, mempersepsikan tema kebebasan, maupun pesan moral yang ingin disampaikan.
            Cerpen kategori mahasiswa dibuka dengan cerpen berjudul Gerbong. Bahasa yang digunakan dalam cerpen ini menurutku yang paling nyastra. Dan benar saja, setelah kubaca biodata penulisnya, Akbar Hari Mukti gemar banget makan tulisan Pram, Arswendo, Djenar, Joko Pinurbo, dan lainnya. Ngeri, yah! Cerpen ini bercerita tentang tokoh “Aku” dengan perempuan yang duduk di sebelahnya. Keduanya dipertemukan dalam  sebuah gerbong. Berkat ruang dan waktu, keduanya akhirnya saling berbicara dan mengungkapkan tujuannya naik kereta. Menurutku, cerpen Gerbong memiliki karakteristik yang sama dengan cerpen koran Kompas karena pada saat aku usai membacanya aku bisa merasakan banyak tanda tanya bermunculan di atas kepalaku. Lantas, aku pun mengubah posisi duduk dengan kedua mata menatap ke atas. Aku ingin merenung.
            Usai merenungi cerpen Gerbong, aku berpindah ke cerpen selanjutnya yakni Biji-Biji Martani yang ditulis oleh Pandan Bara. Aku suka ide ceritanya, unik. Tidak pernah terpikirkan kalau seandainya biji-biji yang dikumpulkan oleh Martani itu digunakan untuk menjawab rasa penasaran dari si tokoh. Di cerpen ini, si Martani yang punya kebiasaan “nyeleneh” sepertinya tidak tanpa sebab. Yapp, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Benar tidak? Cerpen ini, menurutku konservasi banget. Mengajarkan pembacanya untuk lebih menghargai alam beserta isinya yang diciptakan oleh Tuhan dengan sangat sempurna. Buktinya, tumbuh-tumbuhan saja berdzikir dengan cara menjalankan sunatullah tanpa mengeluh setiap waktu sampai tiba masanya untuk berhenti. Percakapan Pak Ainun dengan Martani menjadi bagian yang paling kusuka di cerpen ini. Meski begitu, aku kurang suka dengan ending-nya yang menurutku biasa saja.
            Benang Bahorok yang ditulis oleh Ambar Lusiyono, mahasiswa tuan rumah ini benar-benar istimewa. Sekilas aku membaca judulnya, muncul pikiran bahwa cerpen ini bakalan kayak cerpen pertama. Nyatanya, aku salah. Cerpen ini benar-benar Mak Jlep-Jlep-lah pokoknya. Puk-puk deh buat tokoh “Kamu” atau Kun yang akhirnya memutuskan benang “cintanya” ke tokoh “Aku”. Aishh, ini cerpen benar-benar bikin hatiku kretek-kretek karena penulis pintar banget bikin analogi cinta dari angin dan layang-layang bergambar Power Ranger. Kekurangan dari cerpen ini menurutku terletak pada tokoh “Aku” yang penggambarannya kurang konsisten. Di tengah-tengah cerpen tokoh “Aku” sepertinya sudah dibuat menyukai tokoh ‘Kamu”. Di salah satu narasinya ditulis “....Senyummu datang, mendadak bintang jadi redup.” *Gila, bintang saja kala bersinar sama giginya Kun, ini pakai pasta gigi merk apa, ya #abaikan yang ini. Eh, malah mendekati ending, tokoh “Aku” mencap dirinya jalang karena belum move on dari mantannya, Nino.
            Elnina Zee menulis cerpen dengan judul yang hampir mirip dengan cerpenku. Kalau aku judulnya Melukis Senyum, sedangkan punyanya Nina berjudul Melukis Langit Ibu. Cerpen ini menceritakan seorang anak kecil, Alif, yang punya impian untuk dapat menemui ibunya.  Rada klise sih pas bagian Alif di-bully oleh ayahnya yang tukang mabok. Dua sudut pandang yang digunakan yakni munculnya tokoh “Aku” juga sempat membuat aku terkecoh. Aku kira tokoh “Aku” manusia dan di akhir cerita bakal dituliskan bahwa tokoh “Aku” adalah ibu Alif, eh, tenyata aku salah. Tokoh “Aku” adalah malaikat yang pada akhirnya menjadi saksi dari kematian Alif dan ibunya. Dan ini berhasil menolong cerita yang idenya biasa menjadi tidak terduga di ending-nya.
            Meski dipenuhi dengan local wisdom Pulau Dewata, cerpen Anginku Apa atau Siapa karya Evnaya Sofia mengalir dengan datar dan hambar. Mba Evi yang sepertinya ingin menonjolkan budaya banget, malah  kelupaan untuk mengeksplor ide utama yang sebenarnya bagus jika dikembangkan plus dipadukan dengan penguatan penggambaran  tokoh “Aku” dalam menghadapi dilema antara memilih agama yang diyakininya dengan suami yang amat dicintainya.  Ending yang dibuat menggantung karena pertanyaannya, juga kurang menyentak. Kurang bagus digunakan sebagai pamungkas. Meski begitu, aku tetap suka dengan beberapa detail budaya Bali yang kental dan itu menjadikanku pengen ke Bali. Oh, ya, saran gratis ini untuk penulisnya. Kayaknya akan lebih membuat penasaran apabila tidak semua unsur budaya Bali diberi catatan kaki. Kalau sudah diberi footnote semua, pembaca akan malas mencari tahu.
            Cerpen Mengejar Angin atau dalam bahasa Belandanya Achtervolgen Wind karya Flazia ini cakep punya dan memang layak menjadi jawara. Alur yang dibuat maju-mundur ini, berhasil membuatku penasaran. Okeh, kukira ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan Bayu kepada Windi, tetapi ternyata aku salah. Ini cerita sebuah cinta yang diungkapkannya telat.  Padahal kan dua-duanya saling punya rasa sejak kecil. Ada bagian yang menurutku kurang pas nih. Emang boleh yah, orang yang habis operasi mata langsung lari-larian? *pertanyaannya ini kutunjukan untuk penulisnya yang juga calon dokter. Kok kayaknya serem banget gitu. Ah terlepas dari semuanya, cerpen ini bikin nyes...pengorbanan Windi-nya itu loh yang nggak nahan. Salut deh, buat seseorang yang bisa mencintai dengan cara seperti itu.
            Dibuka dengan sebuah kata tabularasa, cerpen Penggali Pusara Angin yang ditulis oleh Risa Rii Leon membuatku berpikir. Kayaknya pernah denger tentang tabularasa dari seorang dosen yang mengajar Psikologi Pendidikan, tapi lupa artinya. Well, balik lagi ke review-nya. Tidak menyangka juga tokoh utamanya, Renan, memiliki persamaan dengan keseharianku sebagai seorang reporter. Yupps, rasanya dikejar deadline saat menulis berita tuh frustasi banget! *nunjuk layar yang masih kosong melompong. Cerpen ini ke luar jalur dari bayanganku. Kukira akan disuguhi cerita tentang perjuangan seorang reporter untuk mengalahkan deadline, eh, ternyata malah sebuah cerpen yang menurutku hampir menyerupai esai liris. Penulis kurang memasukkan tokoh dalam narasi penggambaran makna “bebas” dan itu berhasil membuat cerpen ini menjadi kaku meskipun tak hanya sekadar cerita yang didapat saat membacanya. Aku mendapatkan banyak pengetahuan dari satu cerpen ini.
             Disuguhi cerpen yang narasinya terlalu banyak, jujur di awal-awal membuatku bosan. Ya, itulah yang kurasakan saat membaca cerpen yang ditulis oleh Sifa Afidati yang berjudul Sayap Garuda. Kebosanan ini ditambah lagi dengan ada banyaknya tokoh “Aku” yang bercerita. Di bagian awal tokoh “Aku” pyur sebagai aku. Kemudian, tokoh “Tegar” yang menceritakan dirinya dengan menggunakan “Aku” juga. Alhasil, karena pendeskripsian “Aku” yang hampir sama untuk kedua tokoh utama menjadikan beberapa bagian dalam cerpen ini cacat logika (hal.115). Menggarap cerpen dengan model berpindah-pindah sudut pandang memang sering terjadi yang seperti itu, apalagi menggunakan sudut pandang pertama. Jatuhnya malah mencederai cerita dan membuat pembaca kebingungan  mengenali tokoh mana yang sedang bercerita. Well, tetapi aku senang dengan tokoh “Tegar” yang ternyata memiliki mimpi yang sama denganku, mendirikan sebuah taman baca. FYI, cerpen ini dicetak dobel. Semoga saja penulisnya selalu mendapatkan rejeki yang dobel. Amin.
           
            Menurutku, judul Mamak Mimpiku Tak Hanya Angin kurang menarik untuk dijadikan judul sebuah cerpen. Kurang menjual gitu. Tetapi, nggak papa juga sih kalau misalnya Arrum, penulisnya, enjoy menggunakan judul semacam ini. Kalau aku sih memang kurang nyaman. Cerpen ini panjang dan menurutku membosankan. Cerita digali dari ide yang sudah biasa tentang si tokoh utama Riani yang memperjuangkan mimpi berkat dukungan dari seorang inspirator handal, Mamaknya. Cerita Riani untuk mimpinya dan mengejar kebebasan datar saja. Itu mungkin juga disebabkan oleh alur yang maju terus, walaupun di awal sudah diberikan flasback.  Meski begitu, cerpen ini pada akhirnya dapat ditolong oleh kehadiran ending yang tidak tertebak. Yupps, ternyata Mamak Riani yang membesarkan Riani dengan begitu gigihnya memiliki kekurangan yakni tidak bisa melihat. Ah, itu membuatku merinding. Seorang ibu memang luar biasa. Bisa-bisanya gitu melakukan hal-hal yang bahkan tidak terpikirkan untuk anak-anaknya. *Untuk ibuku yang ada di Brebes, telah kusampaikan salam rinduku lewat angin, nih. Jangan lupa dibalas dengan peluk dan cium. #Pengen  Nangis.
            Cerpen terakhir merupakan karyak, *Bagian ini nggak ada yang nanya, merupakan cerpen yang kukira nggak bakal lolos. Eh, ternyata lolos. Alhamdulilah ya, sesuatu. Melukis Senyum merupakan cerpen yang mengambil  empat seting yang berbeda. Gunung Bromo, Yogyakarta, dan Wonosobo merupakan tempat yang sudah kukunjungi dan memiliki jutaan kenangan di long term memoriku, sedangkan Jepang merupakan negara yang pengin kudatangi.
            Cerpen ini kupersembahkan untuk Pimpinan Redaksiku, Mba Dewi Maghfiroh yang telah memberikan izin untuk liputan di Bromo. Benar-benar menakjubkan! Tokoh Arendo juga merupakan tokoh imajiner untuk sosok Yoda, seseorang yang kutemui di Balaidesa Ngadisari.
            Well, membaca sembilan cerpen kategori mahasiswa memperkaya ilmuku  tentang ragam teknik penulisan cerpen. Benang merah yang bisa kuambil dari keseluruhan cerpen dalam antologi  Mengejar Angin adalah bahwa angin adalah tetap angin. Makna itu tidak akan pernah berubah sepanjang tidak ada usaha untuk mengejarnya. Sekali lagi, aku benar-benar bangga berada di antara sekian nama dalam antologi ini…*bentar ambil tisu. Dan, kuucapkan terimakasih yang tidak terhingga kepada panitia penyelenggara, Mas Kury Yusuf dan kawan-kawan dari Bengkel Seni Universitas Tidar Magelang yang kabar gembiranya sudah diekstrakkan menjadi perguruan tinggi negeri. Berkat event ini, sebuah tali silatuhrahmi yang semoga tetap mengikat sepanjang waktu bernama Pasukan Dandelion tercipta. Semoga kita selalu dilimpahi berkat dari Allah Swt. agar selalu istiqomah dalam berkarya di jalur literasi. Amin, ya Allah. The lastaku memilih cerpen Benang Bahorok sebagai cerpen favoritku.
Antologi Mengejar Angin dipadukan dengan setoblok getuk goreng asli Magelang

Pasukan Dandelion


           
Semarang, 14 Agustus 2014

Ditulis bertepatan dengan Hari Pramuka oleh seorang prajurit dandelion di sebuah kos yang masih sepi penghuni.  

Baca Selengkapnya ....

Review Antologi Mengejar Angin Kategori Pelajar

Posted by Unknown 1 komentar

         Kata yang ingin kuucapkan pertama kali adalah Alhamdulilah. Akhirnya antologi ini sampai ditanganku setelah beberapa sebab sempat nangkring lama di kantor pos. Rasanya senang banget, akhirnya antologi yang dipertemukan lewat lomba Tidar Fiction Festival ini bisa kubaca. Dari awal memang ada niatan akan membuat review cerpen milik  lima pelajar dan sepuluh mahasiswa ini. Tetapi, baru bisa kutuliskan hari ini.
            FYI, setelah diambil dikantor pos, aku segera membaca habis isi antologi ini. Ada dua kata yang ingin kuucapkan. Kalian Keren! *nunjuk biodata masing-masing penulis. Well, langsung saja disimak review dari pembaca amatiran sepertiku...
            Buat kategori pelajar, aku mulainya dari cerpen keren karya Anitahahaha yang berjudul Diary Anya Mengajaknya Berlari. Cerpen ini tepat banget dijadiin sebagai pembuka. Ringan dan ngena. Diksinya juga keren. Aku sempet syok dan dibuat kagum sama Anita. Nggak nyangka anak SMA yang suka banget sama senja ini bisa nulis cerpen  macam ini. Di antara tokoh yang ada yang paling kusuka adalah Ka Estu. Caranya mengamati Anya, benar-benar so sweet. Kekurangan dari cerpen ini, kurasa hanya adanya beberapa typo. Selain itu, alasan mengapa mama Anya terlalu mengekang anaknya sendiri juga sedikit membuatku penasaran.
            Lanjut ke cerpen kedua berjudul Kanang. Saat kubaca nama penulisnya, kukira ia seorang laki-laki, tetapi ternyata aku salah. Arditya GF adalah seorang perempuan. Cerpen yang menggunakan judul dari nama tokoh utamanya ini bercerita tentang Kanang yang hidupnya terkekang oleh adat yang terlalu mendeskriminasikan seorang perempuan. Kentara betul penulis ingin membuat cerpen yang kental dengan budaya lokal Pulau Kalimantan, tetapi entah mengapa aku merasa agak dipaksakan. Aku kurang bisa masuk ke dalam budayanya. Meski begitu, aku tidak menyangka ending-nya bisa seperti itu. Cukup mengejutkan. Twist-nya dapat. Tetapi, seperti ada yang janggal di cerpen ini. Di awal disebutkan bahwa Umak sangat tidak menghargai anak perempuan, bahkan ia ikhlas-ikhlas saja bila anak perempuannya mati, tapi kenapa diakhir cerita, Umak mau menerima Kanang saat dititipi oleh ibu kandung Kanang. Jadinya bersebrangan gitu.
            Cerpen Mencari Napas yang ditulis Nur Fahmia dipenuhi dengan diksi-diksi yang keren. Tokoh Dimas dalam cerpen ini mirip dengan tokoh Estu di cerpennya Anita. Ya, mereka sama-sama menyukai seseorang yang memiliki masalah keluarga. Rena digambarkan sebagai gadis yang senang menulis, rajin, pendiam, dan jutek pada Dimas. Tetapi, karena perjuangan Dimas yang luar biasa dan pantang menyerah untuk meluluhkan  hati Rena, akhirnya di akhir cerita Rena dapat memberikan senyumnya kepada Dimas. *Fahmia kuucapkan selamat ya, cerpen ini memang pantas jadi yang terfavorit pilihan juri. 
            Sesty Arum dengan cerpennya yang berjudul Satu Mimpi Lagi memang layak buat jadi juara kategori pelajar. Sosok pencerita “Gue” benar-benar hidup. Karakternya juga kuat. Suka banget aku sama cerpen ini. Ceritanya itu ngalir banget dan banyak kejutannya. Tokoh “Gue” juga berhasil membuatku merenungi lagi tentang sebuah mimpi yang seharusnya diperjuangkan bahkan hingga napas terakhir. Selain tokoh “Gue” aku juga suka banget sama Hara. Salah satu quote dari Hara yang sangat menginspirasi adalah “Mimpi memang harus diwujudkan, tetapi yang seharusnya kita kejar adalah kebebasan untuk mengejar mimpi itu.” *Quote ini mengalami perubahan dari  bentuk aslinya. Oh, ya, cara Sesty mempertemukan “Gue” dan Hara lewat “lari” menurutku keren banget.
            The Wind Catcher (silahkan di terjemahkan sendiri artinya) merupakan cerpen yang ditulis oleh Lio Swara bercerita tentang sebuah keluarga yang kaya raya. Ayah keluarga itu menghendaki anaknya menjadi penerusnya kelak. Tetapi sayangnya, dari ketiga putranya tidak ada yang sesuai kehendaknya. Anak pertamanya kabur untuk meraih mimpinya menjadi Tentara. Tomi-anak kedua, meskipun mau menjadi penerus bahkan mengorbankan mimpinya untuk menjadi dokter ternyata juga mengalami kegagalan dalam menjalankan perusahaan. Terakhir, Niko, seorang yang jenius menjadi harapan terakhir ayahnya ternyata menolak dan bersikeras untuk menjadi seorang pilot. Menarik sebenarnya ide dari cerpen ini. Akan tetapi ada beberapa hal yang membuat cerpen ini jadi aneh. Dialog-dialog yang digunakan terlalu metafor. Agak lebay gitu. Aku kurang setuju seorang anak berbicara dengan ayahnya dengan perkataan penuh majas seperti itu.
            Kelima cerpen kategori pelajar di atas seperti memiliki benang merah yakni tentang persamaan persepsi dari kelima penulis cerpen. Semuanya rata-rata menggambarkan tema “Mengejar Angin” sebagai usaha untuk memperjuangkan sebuah mimpi. Anya dengan mimpinya sebagai novelis.  Kanang dengan mimpinya untuk dapat menuntut ilmu. Rena dengan mimpinya untuk mencari uang. “Gue” dengan larinya dan Niko untuk menjadi seorang pilot. Pada bagian terakhir review ini, aku memilih cerpen “Satu Mimpi Lagi” karya Sesty untuk menjadi cerpen kategori pelajar yang paling kufavoritkan.

            

Baca Selengkapnya ....

Review Novel Amina Part 1

Posted by Unknown Agustus 12, 2014 0 komentar
       

          Tentu saja, setiap perempuan yang berumur 20-tahunan, paling tidak seperti aku. Seorang mahasiswa, jomblo, aktif dalam bidang jurnalistik, akan memiliki satu pemikiran yang sama tentang hidup ini. Bahwa hidup lebih menyenangkan jika tidak hanya diam, melainkan terus bergerak agar tidak bosan dan mudah jenuh. Okeh, tulisan ini juga terinspirasi atas meninggalnya aktor Holywood, Robin Wiliams. RIP buatnya. Moga saja meskipun bunuh diri menjadi sebuah pilihan, ia dapat mempertanggungjawabkannya dihadapan Tuhan.
            Barangkali ketika aku bosan, ada tiga alternatif pilihan untuk menghilangkannya. Traveling, menjadi pilihan paling ampuh. Obat mujarab  yang tidak tertandingi di dunia. Tetapi sayangnya pepatah lama mengatakan “Ada Uang Ada Barang” berlaku untuk alternatif yang satu ini. Ya, anggap saja aku tidak dapat meluangkan banyak uang, sehingga terkadang traveling menjadi opsi terakhir.
            Alternatif kedua adalah membaca buku. Aku suka teenlit, ya itu karena ringan banget buat dibaca. Ampuh juga buat jadi hiburan yang murah meriah. Nah, alternatif ketiga lah yang paling kugemari untuk kulakukan. Nonton film Korea. Sejak demam Korea masuk sekitar tahun 2000, aku salah satu yang terjangkit oleh virusnya. Bayangkan saja dalam sehari, aku bisa menghabiskan satu drama Korea yang lumrahnya terdiri atas 16-20 episode. Drama Korea memang benar-benar virus yang luar biasa, paling tidak bagiku.
            Aku tak ingat, berapa banyak drama Korea yang sudah kutonton. Jika kusebutkan satu per satu mungkin aku tak bisa. Bukan karena apa-apa. Kesulitan dalam diriku yang hingga tulisan ini selesai dibuat salah satunya adalah kesulitan untuk menghafal nama, judul, bahkan warna angkot. *untuk yang terakhir, memiliki kenangan tersendiri karena berakibat aku diturunkan di tengah jalan dan ditertawakan oleh anak  anak Sma.
            Kujelaskan lagi, anggaplah untuk kali ini aku tidak memperdebatkannya. Di sini, hanya akan kutuliskan pengalamanku berdasarkan kisah nyata (True Story). Jadi begini, Selasa (12/8) aku membaca sebuah novel Amina karya Muhammed Umar, pengarang asal Nigeria. Novel milik teman yang kupinjem dan sudah dua bulan ini berada di kardus. Penasaran, karena inget beberapa teman yang telah membacanya memberikan komentar yang bagus-bagus. Di antara beberapa tumpukan buku yang plastiknya saja masih ada, aku memilih Amina yang berpenampakan kumal, bau, dan tidak sedap dipandang mata.
            Lembar demi lembar novel ini kubaca. Biasa, sebagai seseorang yang punya mimpi untuk jadi penulis novel, dilembar pertama aku membacanya dengan teliti. Ya, aku amati diksi, gaya bercerita, cara menyusun alur, dan juga cara menyampaikan pesan moral lewat narasi dan dialognya. Menarik dan mudah dipahami itu hipotesaku sementara. Ya, untuk novel terjemahan Amina memiliki keunggulan sendiri. Aku pernah membaca novel terjemahan yang berjudul Mengapa Tuhan Tertawa. Dari judulnya saja sudah bikin penasaran apalagi isinya, pikirku. Mantap! Tetapi tidak dalam kenyataan. Novel ini telah membuat aku hilang selera untuk membaca, bahkan untuk sampai ke lembar ke sepuluh. Alasannya karena bahasanya njlimet dan susah dipahami olehku yang saat itu masih duduk di bangku Sma kelas dua. Barangkali jika ada waktu aku akan mulai membaca lagi novel itu.
            Memasuki lembar selanjut dan selanjutnya, Amina semakin membuatku tercengang. Saat menulis ini, aku baru sampai di halaman 79. Ada beberapa hal yang membuatku terhenyak dan sempat menahan napas karena tidak menyangka. Umar dapat menuliskan novel dari bahan yang begitu pelik di dunia ini. Bahan yang yang membuatku ogah mempelajari padahal aku kuliah ambil jurusan itu. Yupps,  bahan dari Amina adalah masalah politik, gender, pembagian kelas, dan kapitalisme di negara-negara dunia ketiga yang terletak di benua Hitam, Afrika.
             Di bagian awal tulisan ini, aku membuat beberapa opsi tentang bagaimana caraku menghilangkan kebosanan. Tentu saja, dengan beberapa kondisi yang memengaruhinya. Di Amina, ternyata menemukan hal yang sedikit mirip. Salah satu tokohnya, Fatima yang digambarkan sebagai seorang wanita yang memiliki pemikiran progresif, peduli terhadap masyarakat khususnya nasib perempuan, dan menentang kapitalisme ala Barat.
            Fatima adalah sosok yang tidak kumengerti dalam novel ini. Biasanya seorang perempuan menyukai hidup mewah, memiliki suami kaya raya, hidup dengan nyaman, dan juga tidak suka berdiskusi. Tetapi di novel ini, Fatima digambarkan sebagai sosok yang berbeda. Dia memilih bercerai dengan suaminya yang kaya hanya karena ia tidak bisa berkompromi dengan prinsip-prinsipnya. Ah, sedikit liar, bukan? Sepengetahuanku, bukankah seorang perempuan surganya dekat sekali dengan suaminya. Fatima, dalam sikap yang  begitu tegas karena suaminya termasuk dalam golongan “Kelas Borjuis” tidak menerima semua kenyamanan yang didapatkannya.
            Fatima, janda yang berpikiran cerdas itu pun tak tanggung-tanggung dalam berpikir ia mendebat seorang Kapitalis bernama Bature. Di Bab lima, dituliskan saat Bature menawarkannya untuk mencoba seorang Kapitalis, beginilah jawaban Fatima.
            “Kuakui Anda memang kuat. Tapi tidak berarti aku akan bergabung denganmu. Aku punya misi, dan satu hal yang tak akan pernah kulakukan adalah berkompromi atas prinsip-prinsipku. Aku lebih suka minum air putih dan tidur dengan harga diri yang utuh daripada makan kaviar tapi jadi pelayan kapitalisme.” (hal. 58)
           
            Bersambung...

            *Ah, ya satu hal yang tidak bisa kumengerti lagi dari Fatima, ia sangat suka    berdiskusi. Menggilai malah. Bayangkan jika Fatima adalah aku? Pasti cerita tentang  Fatima akan berakhir di halaman awal-awal.
                       
            *Tulisan ini kupersembahkan untuk seorang teman, aku berkata padanya akan        memulai nulis lagi di blog. Ini adalah tulisan pertama yang kubuat setelah sekian bulan vakum.
           
            *Terimakasih juga buat Misbah A. Nurdi yang telah menyarankan novel ini    buatku. Novel ini memiliki hal semacam mantra sepertinya. Baru sampai halaman 79 saja,       aku tidak sabar untuk menuliskan tentang reviewnya.       Meskipun tidak lengkap.

            

Baca Selengkapnya ....

Resensi Novel : Revolusi "Politik, Cinta, dan Tugas"

Posted by Unknown Februari 18, 2014 0 komentar





Judul               : Revolusi
Penulis             : Reza Nufa
Penerbit           : Bypass, Juni 2013
Genre              : Fiksi Indonesia

            Revolusi merupakan novel ketiga dari Reza Nufa. Setelah dua novelnya Iqra’! dan Hanif mendapat apresiasi yang bagus dari masyarakat. Mendengar kata revolusi identik dengan sebuah perubahan. Ya, perubahan yang paling mendasar pada suatu hal. Dalam novel ini penulis mengangkat tentang perubahan ketatanegaraan Negara Indonesia melalui aksi yang dilakukan oleh para mahasiswa Trisakti.

Baca Selengkapnya ....

Jumlah Tamu

Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of MANTRA BACA .