Ajaibnya kembang boreh
selalu jadi primadona Emak dalam hal-hal seperti sekarang ini. Ada saja alasan
Emak untuk memaksaku mengikuti kehendak hatinya yang tak pernah bisa
kumengerti.
Berkali-kali
Wati mengatakan kepadaku, “Mbok ya,
kalau jadi orang jangan terlalu masukin ati kalau ada perkataan yang kurang
berkenan. Nanti kamu juga toh yang grundel. Ora nrimo!” Wati terus berjalan di depanku. Mengacuhkan aku yang terus-terusan manyun. Langkahnya semakin
di percepat mendapati seorang lelaki berjalan berlawanan dengannya. Agak
mencurigakan. Ditatapnya oleh Wati dengan pandangan menelisik.
Selepas mengikuti #KampusFiksi5 di Yogyakarta, ada sebagian dari aku yang hilang. Lari. Terbang. Menguap bersama hujan yang menghantarkanku kembali ke Semarang. Sepenggal cerita yang terbungkus indah, membekam dan luruh menelusup ke relung hatiku yang paling dalam. Ya, acara #KampusFiksi5 memang telah berakhir tapi bersamanya ada sesuatu dari aku yang tertinggal di sana. Sepotong hati yang rindu.
Tangisan Alendra tak kunjung reda. Tidak bisa berhenti meski sudah ditahan semampunya. Ragi, lebih dari cukup! Ya, melihatnya tengah menari, meliuk, kadang diselingi putaran lincah di atas dua kakinya yang terlihat terpaksa, membuat air mata Alendra tak kunjung menyusut.
Ragi menyikut Alendra yang berdiri mematung di hadapannya.” Semua ini untukku, Gi?” tanyanya sekali lagi. Kali ini ditambah dengan wajah merahnya. Isyarat setiap kali mengagumi sesuatu.
“Of course! Spesial for you. Suka nggak?” Ragi memandang Alendra, tepat di matanya. Sejujurnya ia ingin mengatakan bahwa apapun yang terjadi Alendra adalah perempuan yang ingin dimilikinya lebih dari seorang sahabat. Seorang kekasih. Tapi, itu tak akan bisa.