Review Novel Amina Part 1

Posted by Unknown Agustus 12, 2014 0 komentar
       

          Tentu saja, setiap perempuan yang berumur 20-tahunan, paling tidak seperti aku. Seorang mahasiswa, jomblo, aktif dalam bidang jurnalistik, akan memiliki satu pemikiran yang sama tentang hidup ini. Bahwa hidup lebih menyenangkan jika tidak hanya diam, melainkan terus bergerak agar tidak bosan dan mudah jenuh. Okeh, tulisan ini juga terinspirasi atas meninggalnya aktor Holywood, Robin Wiliams. RIP buatnya. Moga saja meskipun bunuh diri menjadi sebuah pilihan, ia dapat mempertanggungjawabkannya dihadapan Tuhan.
            Barangkali ketika aku bosan, ada tiga alternatif pilihan untuk menghilangkannya. Traveling, menjadi pilihan paling ampuh. Obat mujarab  yang tidak tertandingi di dunia. Tetapi sayangnya pepatah lama mengatakan “Ada Uang Ada Barang” berlaku untuk alternatif yang satu ini. Ya, anggap saja aku tidak dapat meluangkan banyak uang, sehingga terkadang traveling menjadi opsi terakhir.
            Alternatif kedua adalah membaca buku. Aku suka teenlit, ya itu karena ringan banget buat dibaca. Ampuh juga buat jadi hiburan yang murah meriah. Nah, alternatif ketiga lah yang paling kugemari untuk kulakukan. Nonton film Korea. Sejak demam Korea masuk sekitar tahun 2000, aku salah satu yang terjangkit oleh virusnya. Bayangkan saja dalam sehari, aku bisa menghabiskan satu drama Korea yang lumrahnya terdiri atas 16-20 episode. Drama Korea memang benar-benar virus yang luar biasa, paling tidak bagiku.
            Aku tak ingat, berapa banyak drama Korea yang sudah kutonton. Jika kusebutkan satu per satu mungkin aku tak bisa. Bukan karena apa-apa. Kesulitan dalam diriku yang hingga tulisan ini selesai dibuat salah satunya adalah kesulitan untuk menghafal nama, judul, bahkan warna angkot. *untuk yang terakhir, memiliki kenangan tersendiri karena berakibat aku diturunkan di tengah jalan dan ditertawakan oleh anak  anak Sma.
            Kujelaskan lagi, anggaplah untuk kali ini aku tidak memperdebatkannya. Di sini, hanya akan kutuliskan pengalamanku berdasarkan kisah nyata (True Story). Jadi begini, Selasa (12/8) aku membaca sebuah novel Amina karya Muhammed Umar, pengarang asal Nigeria. Novel milik teman yang kupinjem dan sudah dua bulan ini berada di kardus. Penasaran, karena inget beberapa teman yang telah membacanya memberikan komentar yang bagus-bagus. Di antara beberapa tumpukan buku yang plastiknya saja masih ada, aku memilih Amina yang berpenampakan kumal, bau, dan tidak sedap dipandang mata.
            Lembar demi lembar novel ini kubaca. Biasa, sebagai seseorang yang punya mimpi untuk jadi penulis novel, dilembar pertama aku membacanya dengan teliti. Ya, aku amati diksi, gaya bercerita, cara menyusun alur, dan juga cara menyampaikan pesan moral lewat narasi dan dialognya. Menarik dan mudah dipahami itu hipotesaku sementara. Ya, untuk novel terjemahan Amina memiliki keunggulan sendiri. Aku pernah membaca novel terjemahan yang berjudul Mengapa Tuhan Tertawa. Dari judulnya saja sudah bikin penasaran apalagi isinya, pikirku. Mantap! Tetapi tidak dalam kenyataan. Novel ini telah membuat aku hilang selera untuk membaca, bahkan untuk sampai ke lembar ke sepuluh. Alasannya karena bahasanya njlimet dan susah dipahami olehku yang saat itu masih duduk di bangku Sma kelas dua. Barangkali jika ada waktu aku akan mulai membaca lagi novel itu.
            Memasuki lembar selanjut dan selanjutnya, Amina semakin membuatku tercengang. Saat menulis ini, aku baru sampai di halaman 79. Ada beberapa hal yang membuatku terhenyak dan sempat menahan napas karena tidak menyangka. Umar dapat menuliskan novel dari bahan yang begitu pelik di dunia ini. Bahan yang yang membuatku ogah mempelajari padahal aku kuliah ambil jurusan itu. Yupps,  bahan dari Amina adalah masalah politik, gender, pembagian kelas, dan kapitalisme di negara-negara dunia ketiga yang terletak di benua Hitam, Afrika.
             Di bagian awal tulisan ini, aku membuat beberapa opsi tentang bagaimana caraku menghilangkan kebosanan. Tentu saja, dengan beberapa kondisi yang memengaruhinya. Di Amina, ternyata menemukan hal yang sedikit mirip. Salah satu tokohnya, Fatima yang digambarkan sebagai seorang wanita yang memiliki pemikiran progresif, peduli terhadap masyarakat khususnya nasib perempuan, dan menentang kapitalisme ala Barat.
            Fatima adalah sosok yang tidak kumengerti dalam novel ini. Biasanya seorang perempuan menyukai hidup mewah, memiliki suami kaya raya, hidup dengan nyaman, dan juga tidak suka berdiskusi. Tetapi di novel ini, Fatima digambarkan sebagai sosok yang berbeda. Dia memilih bercerai dengan suaminya yang kaya hanya karena ia tidak bisa berkompromi dengan prinsip-prinsipnya. Ah, sedikit liar, bukan? Sepengetahuanku, bukankah seorang perempuan surganya dekat sekali dengan suaminya. Fatima, dalam sikap yang  begitu tegas karena suaminya termasuk dalam golongan “Kelas Borjuis” tidak menerima semua kenyamanan yang didapatkannya.
            Fatima, janda yang berpikiran cerdas itu pun tak tanggung-tanggung dalam berpikir ia mendebat seorang Kapitalis bernama Bature. Di Bab lima, dituliskan saat Bature menawarkannya untuk mencoba seorang Kapitalis, beginilah jawaban Fatima.
            “Kuakui Anda memang kuat. Tapi tidak berarti aku akan bergabung denganmu. Aku punya misi, dan satu hal yang tak akan pernah kulakukan adalah berkompromi atas prinsip-prinsipku. Aku lebih suka minum air putih dan tidur dengan harga diri yang utuh daripada makan kaviar tapi jadi pelayan kapitalisme.” (hal. 58)
           
            Bersambung...

            *Ah, ya satu hal yang tidak bisa kumengerti lagi dari Fatima, ia sangat suka    berdiskusi. Menggilai malah. Bayangkan jika Fatima adalah aku? Pasti cerita tentang  Fatima akan berakhir di halaman awal-awal.
                       
            *Tulisan ini kupersembahkan untuk seorang teman, aku berkata padanya akan        memulai nulis lagi di blog. Ini adalah tulisan pertama yang kubuat setelah sekian bulan vakum.
           
            *Terimakasih juga buat Misbah A. Nurdi yang telah menyarankan novel ini    buatku. Novel ini memiliki hal semacam mantra sepertinya. Baru sampai halaman 79 saja,       aku tidak sabar untuk menuliskan tentang reviewnya.       Meskipun tidak lengkap.

            

Baca Selengkapnya ....

Eksistensi Sebuah Nama

Posted by Unknown Mei 21, 2014 0 komentar
          
           



              Akhir-Akhir ini pikiran saya sering dikisruhkan tentang eksistensi sebuah nama. Ya, nama saya. Lebih tepatnya nama yang saya gunakan dalam dunia maya. Solesepatoe Soeszhyy Patdhien. Alay banget kan?         
         Saya mengakui memang benar demikian. Mutlak alaynya. Di FB, nama saya memang sering diributkan oleh sebagian orang. Pernah seseorang yang kenal betul siapa saya, mengirim ke kronologi.
            “Sus..namamu itu mbok diganti. Alay banget!” tulisnya beberapa bulan yang lalu, segera setelah ia menerima permintaan teman dari saya.
            Kaget? Tentu iya, tetapi saya biasa saja menanggapinya. Enteng, saya menjawab, “Lah, gimana mau diubah mba, orang udah paten itu. Udah nggak bisa ganti nama lagi.”
            Selang beberapa hari, sebuah inbok dari teman sesama penulis juga memberikan tanggapan yang serupa. Nama FB saya tidak menjual banget lah pokoknya. Ya, walau pun secara terang-terangan ia tidak mengungkapkan untuk menggantinya, saya tetap mengerti maksud tersiratnya.
            Tak cukup di situ, Rabu (22/5) saya berencana bergabung dengan salah satu grup kepenulisan sastra. Seperti biasa, saya kepo-in dulu profil grup tersebut. Betapa kagetnya, ketika dalam salah satu status yang ditulis admin grup itu menyebutkan persyaratan-persyaratan agar dapat masuk menjadi anggota.
1.      Nama FB bukan nama ALAY
2.      Mempunyai teman penerbit
3.      Mempunyai teman penulis
            Syarat kedua dan ketiga, saya aman. Lolos dengan mulus. Namun, masalahnya adalah syarat nomor 1. Ibarat kata itu masih menjadi ganjalan langkah saya selanjutnya. Selama dua hari saya menunggu konfirmasi. Di cek beberapa kali, hasilnya tetap nihil. Hingga sampailah pada hari ketiga. Di pemberitahuan, seorang telah memasukkan nama  saya menjadi anggota. Wah, saya tidak mengira. Cukup senang. Tidak menyangka bakalan lolos.
            Nah, sepenggal cerita di atas adalah sekelumit kisah nama FB yang alay banget pokoknya. Tetapi, entahlah meskipun banyak orang yang mempermasalahkannya-tentu ini adalah salah satu bentuk kepedulian mereka kepada saya-tekad saya sudah bulat. Nama Soelsepatoe Soeszhyy Patdhien tetap saya pertahankan.
            Di balik sebuah nama pasti ada cerita. Di balik sebuah cerita pasti ada hikmah. Saya pribadi mengerti betul bahwa nama FB saya yang alay-nya nggak ketulungan itu mempunyai kisah yang kelak akan saya tuliskan. Kelak akan saya abadikan. Saya percaya, jika saya mempertahankan sesuatu di tengah desakan perubahan, saya akan mendapatkan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh orang. Ia adalah kenangan.


            

Baca Selengkapnya ....

Maafkan Anakmu, Ibu!

Posted by Unknown Mei 14, 2014 0 komentar


Mei 2010
            Stres melandaku. Menjatuhi pikiranku dengan bertubi-tubi pertanyaan. Mengapa dia putuskan aku, disaat pernikahan sudah dekat? Hah! Mengapa? Semua wanita memang sama saja. Di dalam jiwa mereka tertancap erat, kuat, dan lekat tentang paham materialisme.
            Telak hatiku yang remuk, membuat jiwaku bangkit. Ingin kubuktikan bahwa lelaki yang telah dihina akan lebih semangat dari biasanya untuk mengejar impian. Aku mulai mencari kerja. Melamar dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Namun, nihil.  Tak satupun kabar yang kuterima berisi kebahagiaan.
            Aku mulai stres. Lebih dahsyat dari sebelumnya. Perlahan, aku mulai berubah. Aku muak dengan hidup yang melulu menderaku dengan rasa putus asa. Bersama dengan teman-temanku, aku mencari kenikmatan.
            Merokok kini menjadi kenikmatan tersendiri untukku. Segera setelah bangun tidur, aku duduk di kursi depan rumah. Menyulut rokok. Menghembuskan asapnya, pelan. Ah, nikmatnya. Dalam sehari kuhabiskan satu bungkus rokok, bahkan bisa lebih. Bagiku, rokok adalah segala-galanya. Jika sehari tidak merokok ada sesuatu yang hilang dariku.
***
            Ibu uring-uringan setiap waktu. Seringnya Ibu memaki-maki kelakuanku yang berubah drastis. Mana anaknya yang dulu punya impian untuk membahagiakan ibunya? Mana anaknya yang dulu punya segudang cara untuk mengejar kesuksesan?
            Ibu, anakmu sudah mati! Jiwanya lenyap bersamaan dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan tunangannya dulu.
***
            TV, kipas angin, dan kulkas, kujual sesuka hati. Aku tidak peduli dengan teriakan Ibu yang diiringi tangisan membabi butanya. Yang kutahu aku sangat butuh uang. Aku ingin rokok. Rokok, Ibu!
            21 September 2013
            Hari itu, setelah bangun kuambil sepotong roti yang ada di meja. Aku lapar. Namun, mendadak aku diam. Baru sepotong roti yang kumasukkan, aku tidak sanggup menelan. Tenggorokanku sakit. Seperti dihunjami ratusan paku. “Ah, sakit!” batinku. Gelas yang kupegangi tiba-tiba terlepas dari tangan. Pecah berkeping-keping.
            Aku runtuh. Badanku ambruk. Selang beberapa hari kemudian, kesehatanku semakin parah. Tenggorokanku semakin sakit. Terlebih batuk yang menyertainya. “Ibu, ada apa dengan anakmu?” Kupanggil-panggil nama ibu di antara desau nafasku yang begitu menyesakkan.
            Darah yang kukeluarkan dari mulutku membuat ibuku menjerit ketakutan. Lantas, Ibu mengantarku ke rumah sakit. Ya, awal Oktober kujalani opname. Dokter mengatakan aku positif mengidap kanker tenggorokan akut  karena merokok.
            Kulihat Ibu meneteskan air matanya. Air mata yang kesekian. Di antara selang infus yang melingkar dimulutku, aku merasakan bahwa ibu berubah. Badannya mulai renta. Keningnya mulai berkerut. Beberapa helai rambutnya memutih. Ibu, apa yang selama ini kulakukan?
***
            Aku menyesal, Ibu. Sungguh! Jika waktu dapat diputar, aku ingin kembali pada saat menjadi anakmu yang baik. Anakmu yang tidak membangkang. Anakmu yang selalu membuat Ibu tersenyum.
            Ibu kehabisan dana. Uangnya tidak cukup untuk membayar semua biaya rumah sakit. Aku yang masih kritis terpaksa harus menjalani kesakitan di ranjang rumah, setelah pihak rumah sakit mengusirku.
            Ibu mengurusi aku setiap hari. Tanpa mengenal jeda. Tanpa merasa lelah. Di bagian leherku telah tumbuh benjolan-benjolan yang mengerikan. Darah yang kukeluarkan setiap hari semakin banyak. Berat badanku turun secara drastis. Aku bagaikan zombi yang tulangnya menyumbul di sela-sela kulit.
             Lengkingan suaraku setiap kali batuk, selalu membuat ibu terbangun dari tidurnya. Setiap kali aku makan, ibu melumatkan makanan sehalus mungkin agar aku tidak kesusahan menelan. Setiap hari aku hanya bisa mengotori seprai tempat tidur dengan kotoran dan air seni. Ibu, tanpa mengenal lelah, tanpa pernah berkeluh kesah, selalu mengurusi semuanya untukku.
***
            Di suatu pagi, aku tidak bisa bergerak sama sekali. Dua mataku berseliweran mencari Ibu. Tepat di samping ranjangku, Ibu tengah tertidur. Tangannya memangku kepalanya. Lama, kuperhatikan Ibu. Tiba-tiba air mata ini meluncur tanpa pernah bisa kutahan.
            Dalam diamnya. Dalam hembusan nafasnya yang telah lenyap. Aku memandangi Ibu yang terkulai begitu damai.
            “Maafkan anakmu, Ibu. Kalau boleh kuminta sesuatu padamu, tolong apabila aku dilahirkan kembali, tetaplah menerima aku sebagai anakmu, Ibu...”
***
            Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis di Blog “Diary sang Zombigaret
            Sumber Gambar: www.turnbacktogod.com%2Fstop-smoking-anti-smoking-ads-part
            

           



Baca Selengkapnya ....

Salam Sapa Blog Personal

Posted by Unknown April 17, 2014 0 komentar
Assalamualikum Wr.Wb 

        Sudah satu tahun lebih aku belajar tentang blog, tapi baru dua bulanan ini benar-benar "gila" ngblog. Ternyata ngeblog itu asyikk banget! Terlebih buatku. Profesi sebagai wartawan kampus dan bermimpi sebagai penulis, tentunya manfaat dari blog ajib banget lah. 
         Blog bagiku seperti teman baru yang setia menemani keluh kesahku...*ceee! Pokoknya, apapun yang aku pikiran, ide, gagasan, karya, pengennya dishare ke blog tercinta. Makanya dalam blogku kutuliskan sebuah motto "Setiap dari kita adalah pencerita, maka ceritakan semua tentangmu lewat tulisan."
        Pertanyaanya mengapa harus tulisan? Ada apa dengan tulisan? Seorang sastrawan kenamaan Indonesia-Pramoedya Ananta Toer berkata,"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian". Mak Jleb-Jleb banget kan! 
        Tanpa perlu beli formalin, kita udah bisa jadi awet. Keabadian seorang penulis itu, laiknya keabadian bunga edelwiess. Harum dan dikenang sepanjang masa. So, menulislah, menulislah, dan menulislah. 
        Nah, kalau udah nulis, pertanyaan yang muncul setelahnya adalah siapa yang bakal baca tulisan-tulisan kita? Siapa? Nggak usah bingung dan galau men di era serba canggih begini. Ada blog! Macamnya juga banyak. Ada blogspot, wordpress, detik.com, kompasiana.com, tumblr, dan sebagainya. Tinggal pilih! Semuanya juga boleh kalau sanggup ngelolanya.
        Nah, kalau udah punya blog tinggal pilih menu apa yang bakal kita jual, istilahnya. Kan blog-blog yang beredar di pasaran *emangnya obat! isinya beragam. Ada yang isiny tentang pelajaran, tips and trik, tentang kumpulan tulisan di berbagai bidang kehidupan. Pokoknya macem-macem lah.
        Kalau aku sih ya, sejak awal bikin blog memang lebih tertarik buat bikin blog personal yang anti maenstream. Pasalnya, aku nggak ingin di blogku melulu membahas satu hal saja. Bosen deh kayaknya kalau gitu-gitu aja. Iya nggak? *ngaku deh, kalau ngrasa nanti aku kasih gelas. Hehe.
        So, bagiku blog personal mewakili aku banget. Nah, iseng-iseng kemarin aku buka-buka blog teman. Di salah satu postingannya, ia bercerita tentang suatu komunitas blog yang anggota-anggotanya emang ngambil fokus ke personal blog. Aku tertarik. Tiga hari aku kepoin blog temanku itu. Nah, akhirnya kutemukan juga apa yang kucari. Ya, kalian pasti paham. Ngeblog juga butuh teman. Butuh dukungan. Butuh semangat biar nulisnya lancar. Otomatis aku juga butuh wadah.
        Dari sekian wadah yang terhimpun dalam suatu komunitas blog, aku memilih untuk bergabung dengan Komunitas Blogger Energy. Kulihat kayaknya wadah ini yang cocok denganku. Itulah alasan mengapa aku bergabung.
        Jadi, semoga saja itikad baik ku ini dapat diterima oleh teman-teman sesama blogger di Komunitas Blogger Energy.

       
       
       



Baca Selengkapnya ....

ASUS Notebook Terbaik dan Favoritku

Posted by Unknown April 02, 2014 10 komentar

            Suatu ketika, seorang teman bertanya kepada saya dengan raut wajahnya yang tampak heran. “Sus, kamu kok tiap hari bawa notebook terus?” Ia membuang matanya ke arah tas jinjing laptop saya.
            Saya tertawa. Tak segera berkomentar. “Mau tahu kenapa?” Saya menjawab dengan nada dibuat-buat, ingin membuatnya penasaran. Sejurus kemudian, karena tidak tega membiarkannya penasaran, mulut saya membuka.
            “Soalnya, saya cinta banget saya notebook saya.”
            “Alasannya?”
***
Cinta Pertama, ASUS 201E
Cinta pertama, yang selalu mengisi hari-hari saya

            Di Era modern seperti ini, memiliki laptop atau notebook merupakan suatu keharusan. Bagi saya sendiri yang berprofesi sebagai wartawan kampus dan mahasiswa, adanya laptop bukan lagi menjadi keharusan, melainkan kebutuhan. Ya, ibarat kata seperti handphone dan kartunya. Tidak dapat dipisahkan.
            Maret 2013, saya memutuskan untuk membeli sebuah notebook. Sebelumnya saya telah bertanya ke beberapa teman serta browsing di internet untuk mendapatkan informasi. Teman saya  menyarankan ASUS Eee Pc, model notebook terbaik yang sesuai dengan kriteria yang saya ajukan. Ukuran fisik yang kecil, ringan, serta desain menarik. Saya pun mencarinya ke toko. Namun, nihil. Semua toko tidak ada stok, alasannya model Eee PC tidak lagi diproduksi.
            Saya tidak menyerah. Setelah berkeliling, saya berhenti di salah satu toko yang menjual beragam spesifikasi notebook ASUS. Tak beberapa lama, saya menemukannya. Cinta pertama dalam sekali pandang. Saya jatuh cinta kepada ASUS 201E berwarna hitam.
Menemukan Kemistri
            Sejak berencana membeli notebook, saya tidak melirik merk apapun. Di dalam pikiran dan benak saya, cuma ada ASUS. Boleh dibilang, seperti ada kemistri. Semacam ketertarikan sehingga memunculkan rasa kecocokan dan suka.
            Ketertarikan ini muncul sebagai hasil pengamatan yang saya lakukan. Di tempat saya bekerja, masing-masing anggota memakai notebook yang berbeda. Ada ASUS, Acer, Lenovo, Dell, dan Samsung. Akhirnya, karena penasaran, saya coba satu per satu.
            Bagian pertama yang saya lihat adalah ukuran. Saya tidak suka yang ukurannya besar dan cenderung berat, karena menyusahkan jika harus membawanya setiap hari. Kedua, desainnya. Keybord menjadi bagian terpenting dalam pengamatan saya. Apakah nyaman atau tidak. Dari semua merk yang saya coba hanya  ASUS dengan model Eee PC-lah yang berkenan di hati. Semua kriteria ada padanya.
            Saya lantas browsing ke internet. Mencari review yang berkaitan dengan ASUS Eee PC, seperti dugaan saya, harganya cukup untuk kantong mahasiswa. Beberapa hari berikutnya, saya meluncur ke toko.
Tak Salah Pilih
            Awalnya saya kecewa, begitu tahu model Eee PC tidak ada stok. Namun, hal itu tidak membuat saya buru-buru pindah ke lain merk. Saya tetap konsekuen terhadap ASUS. Pencarian pun dilakukan dan membuahkan hasil.
            Pertama melihatnya, saya langsung menjatuhkan pilihan ke ASUS 201E warna hitam yang ada di deretan kaca etalase. Setelah klik di hati, saya menanyakan harganya. Dan ternyata harga ASUS 201E kurang dari 3 juta, atau kisaran 2,8-2,9 juta. Saya terkejut sekaligus senang. Menurut saya, harga dan spesifikasinya imbang. Bahkan kalau boleh jujur, dibandingkan dengan merk lain dengan rentang harga yang setara, ASUS X201E lebih unggul dan memberi banyak kelebihan.
ASUS X201E selalu menemani saya ketika menulis berita

Kelebihan ASUS X201E
            Sebelum membahas mengenai kelebihannya, berikut ini akan saya tuliskan mengenai spesifikasi ASUS X201E yang saya beli selengkapnya.
            Ukuran (L x W x H cm) : 30,3  x 20 x 2,12 cm
            Berat (kg) : 1,4
            Warna : Hitam (Black)
            Ukuran Layar (in) : 11,6
            Hard Disk : 320 GB
            RAM : 4 GB
            Sistem Operasi : Free DOS
            Fitur Tampilan : HD
            Input : VGA/USB/Card Reader/LAN
            Output : 3,5 mm Jack/USB/HDMI
            Tipe Grafis : Intel HD
            Tipe Baterai : Li-Ion
            Well, sesuai janji akan saya paparkan kelebihan ASUS X201E setelah menggunakannya selama satu tahun ini.
Desain
            Hemmm, sekali lihat tampilan luar ASUS X201E, bukan hanya saya barangkali Anda juga akan merasakannya. Terpesona! Jelas, bagaimana tidak, ASUS X201E didesain sangat bagus. Pilihan warna beragam (biru, ungu, putih, dan hitam), tipis, ramping, serta bobot yang ringan membuatnya sedap dipandang dan nyaman untuk dibawa ke mana-mana.
            Ya, itu pulalah yang menjadi alasan mengapa saya senantiasa membawanya ke mana pun saya pergi. Ke kelas, di kantor, bahkan saat sedang mencari berita “reportase”. Sangat praktis dan membantu efisiensi kerja. Bayangkan saja, kalau seandainya yang saya miliki adalah laptop dengan ukuran besar, betapa menderitanya punggung dan tulang belakang saya.
            Selain itu, penempatan port-nya juga nyaman dan lengkap karena didukung oleh port generasi baru, HDMI. Pada sisi kirinya, dengan mudah dapat ditemukan power jack, RJ-45, USB 3,0 dan 2,0, dan Kensington Lock. Sedangkan bagian kanannya terdiri dari card reader, mocrophone/headphone, USB 2,0, dan VGA.
Kinerja
            ASUS X201E dilengkapi dengan processor dual-core Celeron 847 ULV yang kecepatannya mencapai 1,0 Ghz sampai 1,33 Ghz, jadi untuk urusan di kantor dan tugas sehari-hari sebagai mahasiswa seperti mengetik dan browsing sangat cepat. Bagi saya sendiri merasa diuntungkan akan hal ini. Ketika mencari referensi untuk menulis berita, saya tak perlu menunggu lama.
            Kinerja yang cepat sangat didukung oleh daya tahan baterai. Sekali diisi sampai full charge, ASUS X201E akan bertahan 3-5 jam. Kalau saya memakainya pada kondisi tersambung internet, bisa tahan 3 jam-an. Sedangkan 4-5 jam-an kalau pemakaian normal.
            Oh ya, kecerahan layar notebook ASUS X201E  juga tidak membuat mata cepat lelah. Kekontrasannya pas, meski dilihat dari sudut manapun. Selain itu, dalam urusan mengetik, keybord-nya sangat nyaman. Sehingga tulisan yang saya buat cepat selesai.
Harga dan Memori
            Harga yang diberikan untuk memiliki notebook ASUS X201E tidaklah mahal. Berkisar antara 2,8-2,9 juta. Tawaran yang menggiurkan. Tampilannya pun bisa menggunakan Windows 8, meski tanpa touchscreen. Dari sisi memorinya, jangan ditanya. ASUS X201E memiliki RAM sebesar 4 GB dan dapat diupgrade hingga 8 Gb. Menakjubkan bukan? Ditambah lagi dengan media penyimpanan hard drive-nya, suguhan penyimpanan sebesar 320 GB menanti Anda.
***
ASUS X201E notebook terbaik dan terfavoritku

            “Gimana masih penasaran, mengapa saya cinta benget sama ASUS X201E?” Saya balik bertanya kepada teman saya. Dia tampak semakin penasaran.
            “Iya. Masa ada sih notebook sekeren ini?” tanyanya sembari mengerling ke arah notebook saya. “Boleh pinjem nggak? Pengen buktiin!” Tangannya hendak meraih notebook di hadapan saya.
            “Eitts, enak aja. Nggak boleh minjem. Beli dong!” Saya membenahi notebook ASUS X201E terbaik dan terfavorit yang saya miliki. Lantas bergegas meninggalkan teman saya, sendiri.         

Baca Selengkapnya ....

Jumlah Tamu

Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of MANTRA BACA .