LGBT: Rancangan Gerakan Menyimpang Besar-Besaran

Posted by Unknown Maret 03, 2016 0 komentar
Tahukah kalian mengapa warna Pelangi diidentiikan dengan LGBT? Sumber: www.google.com

Beberapa waktu yang lalu, tentu aku dan kamu masih ingat – barang kali juga masih lekat dan terus terngiang-ngiang tentang berbagai macam perdebatan mengenai status halal brand hijab kenamaan. Hijab yang dimaknai sebagai sesuatu yang membatasi diri orang lain – dalam konteks ini kita lagi bahas hijab yang dikenakan oleh wanita untuk membatasi auratya agar tak terlihat oleh orang yang tak seharusnya, lazimlah di Indonesia disebut dengan kerudung, jilbab, tapi tentu bukan jillboobs, dengan pongah dijadikan komoditas untuk berbisnis, beberapa pihak mengatakan begitu. Pihak lain, tak kalah getol berasumsi kalau urusan jilbab saja sudah diberi cap-cap ‘menye-menye’ – halal atau tidak, maka bagaimana dengan urusan sempak yang notabene-nya lebih digunakan untuk membatasi urusan yang urgen, melahirkan generasi penerus. Wah, tentu sempak itu haruslah diberikan label ‘halal’ bahkan sejak dalam proses pembuatan, agar tetap barokah urusan beranak-pinak itu.
Memberi label atau dilabeli adalah perkara yang memang sering dilakukan oleh manusia di era pemanfaatan jejaring sosial yang kian gencar. Dalam sebuah dinding yang diciptakan Mark itu, mudah sekali pemilik akun mengkotak-kotakan individu atau sekelompok orang sesuai dengan paradigma yang jadi junjungannya. Nah, berhubung, aku adalah kaum jomblo tur ikut-ikutan menye, perkara melabeli dan dilabeli, juga kerap digunakan untuk membahas perdebatan-perdebatan lain yang berkelindan di jejaring sosial, termasuk LBGT. 
Beberapa waktu lalu, bukan tanpa sebab aku meng-share status seseorang, yang bisa kubilang adalah guru ‘tak kasat mata’ dalam paradigma yang kuanut. Bolehlah, ketika kamu melabeli aku sebagai jomblo dengan pemikiran dangkal nan cerobah – tetapi plis, untuk guruku, aku tahu belio itu pemikir yang hebat dan bijak – tidak mungkin dangkal berpikir dan hanya mengacu pada kerangka emosi untu membuat tulisan yang provokatif agar setiap insan menolak LGBT, maka biarkan pandanganku yang kemudian akan kubicarakan di sini – terlepas dari pandangan guruku itu. Karena seperti kusebutkan tadi, apalah dayaku seorang jomblo sejak beberapa tahun silam ini memang selalu dan serta merta menjadikan agama sebagai dalil dalam pemberian respon. Agama menurut kaum jomblo terpinggirkan sepertiku, ibarat oase di tengahnya gersangnya menunggu jodoh yang tak kunjung datang. Berangkat dari point of view inilah, pemilihan judul menye berlabel “Aku: Jomblo Syar’i yang Menolak LGBT”, kuangkat ke permukaan. 
Nah, ke depan bolehlah kusebut LGBT sebagai tindakan sosial, karena itu berkaitan dengan uraian panjang sampai tumpah-tumpah terkait pandanganku dengan LGBT menanggapi pertanyaan kamu, “kalau menurutmu, pilihan ‘tidak mendukung sekaligus tidak membenci LGBT itu bagaimana?” Kalau dalam jurnalistik, wahai PU – ku yang terhormat, pertanyaan ‘bagaimana” memerlukan reportase yang lumayan dalam, deep, kalau di perkuliahan barang kali bisa lebih dari dua sks. Tetapi, karena besok aku ada jadwal ngisi talkshow novel pertamaku‪#‎EternalFlame‬ di Jakarta, kukebut pertanyaan kamu dengan selanyang pandang saja. 
LGBT sesuai dengan asumsiku adalah tindakan sosial seseorang yang kuprediksi akan menjadi gerakan sosial besar-besaran di dunia yang makin mblesak ini, jikalau saja tidak segera dibendung atau dihentikan. Kerangka acuan yang kamu berikan bahwa LBGT alangkah bijak jika tidak dilihat dari sisi agama dan emosi sesaat saja merupakan anutan cara berpikirnya George Homans melalui mazab “pertukaran sosialnya”. Bung Homans ini baru benar-benar puas kalau melihat suatu tindakan sosial dijelaskan dan didasarkan pada ranah psikologi, yang diturunkan dari kenyataan-kenyataan tentang keberadaan manusia sebagai makhluk yang bersifat individual. Lebih jauh lagi, Bung Homans yang sangat mendetail ini, berasumsi dalam suatu kelompok nonformal, anggota-anggotanya dapat memberikan persetujuan sosial atas tingkah laku yang sesuai dengan persetujuan-persetujuan dan dengan harapan-harapan teman-temannya, sebagai upaya mendapat persetujuan dan pengakuan. Bung Homans dalam konteks ini, seseorang yang mengidap sekte LGBT lantaran penyakit sebelum mendapat persetujuan dari anggota kelompoknya terlebih dahulu dia punya motif, punya asumsi agar ketika dia tampil dia sudah disetujui oleh kelompok-kelompoknya. Cara pandang seperti ini oleh Bung Blumer – iki sopo meneh? – adalah bentuk pengingkaran terhadap faktor yang mendahului LGBT itu, sebuah penyakit itu sendiri, terlebih penyakit itu memiliki dua dimensi, dibiarkan atau disembuhkan. Pembiaran-pembiaran terhadap penyakit LGBT dengan ajakan untuk merangkul, menyelami, dan memahami secara bijak untuk terlebih dahulu tahu apa sebab dia memiliki penyakit itu – adalah memberi rujukan pasif terhadap segala tindakan kaum pengidap LGBT itu, bahkan adalah sebuah kealpaan jika melihat para penganut sekte itu hanya sebagai objek pasif yang hanya butuh dimengeri dan dipahami – itu hanya dimungkinkan dapat terjadi kalau bertemu secara face to face, orang per orang, kelompok kecil per kelompok kecil – sekup pemikiran kamu yang bersengkongkol dengan Bung Homans, yang baru merasa puas apabila dikaji dari psikologi hanya dapat digunakan untuk kelompok non-formal kecil-kecilan dan hanya menjangkau partikelir-partikelir di sekelilingmu – bukan untuk institusi-institusi sosial yang besar seperti masyarakat di suatu negara atau dunia. Dan aku, yang masih berpegang teguh pada dalil agama, tentu meminimalkan penggunaan ranah psikologi untuk menghentikan beredarnya sekte LGBT yang jumlahnya kian hari kian banyak, semakin menglobal, karena lambat dalam penanganannya. Apalagi semakin diketahui jumlah penganut LGBT semakin berkembang dan akan menjadi semacam gerakan sosial besar-besaran. 
Maka, Bung Irham yang kalau lagi senyum manis banget, aku yang melabeli diri sebagai jomblo syar’i tidak akan memberikan kompromi terhadap sekte LGBT. Aku tidak akan berada di tengah-tengah antara tidak mendukung sekaligus tidak membenci. Secara tegas, seperti apa yang kuyakini dalam agama yang kupercaya, LBGT adalah tindakan yang harus ditolak dan dihentikan peredarannya di semesta ini. Dan tindakan dengan ranah psikologi yang menurutku tahap demi tahap, alon-alon asal kelakon, maka selak jomblo-jomblo yang daya tangkal dan daya lanting terhadap isu ini akan terperdaya semua. Menyerah semua dan memutuskan untuk ikut sekte LGBT. Maka, alangkah lebih kongkretnya apabila LGBT dimentalkan dengan agama, biar sekali penyembuhan, sekali penghentian. 
Bung Irham, sebenarnya aku mau nulis lebih panjang lagi – argumen-argumen penguatan atas dasar agama sebagai pranata sosial di masyarakat yang dapat digunakan sebagai obat mujarab melawan penyakit LGBT, kemudian kerangka asumsi dari Bung Blumer dan Bung Mead yang kupikir sangat cemerlang untuk menjawab kegelisahan aku dan kamu tentang LGBT juga akan menarik kalau ditulis. Aku terhenyak beberapa saat tatkala membaca argumentasi mereka. Tetapi, berhubung aku mau mandi, mau sampoan juga, biarlah tulisan ini kubiarkan prematur “sudah netas sebelum waktunya” dan nanti sepulangnya dari Jakarta aku bisa menuliskan lebih banyak lagi, itu masih berupa harapan. Kadang kan das sein tidak seperti das sollen. 
Oh, ya, karena tulisan ini berawal dari pertanyaan, kusudahi juga dengan pertanyaan. Biar cover boat side, nggih, Bung Irham. 
Bung Homans membangun beberapa proposisi perilaku manusia, proposisi tesebut di antaranya proposisi keberhasilan. Bunyi proposisi itu adalah, “Dalam segala hal yang dilakukan oleh seseorang, semakin sering sesuatu tindakan mendapat ganjaran (mendatangkan respon yang positif dari orang lain), maka akan semakin sering pula tindakan dilakukan oleh orang yang bersangkutan. 
Setujukah, kamu dengan proposisi tersebut PU – yang paling kusayangi sebagai rekan diskusi - dalam menanggapi LGBT?

Tulisan ini dipersembakan untuk Irham, sebagai jawaban atas pertanyaannya
Ditulis, ketika penulis sedang packing untuk persiapan ngisi talkshow novel perdananya, #EternalFlame. 
dari Susi Lestari yang masih terus semangat berpromosi agar bisa cetak kedua. Amin.


Baca Selengkapnya ....

Jangan Jadi Guru Les Privat, Mumet!

Posted by Unknown 0 komentar


Hampir 4 tahun saya kuliah di Semarang. Saat ini sedang “asyik” ngublek-ngublek pustaka bab 2 proposal skripsi. Di antara waktu saya kuliah, hampir semua lini pekerjaan partime pernah saya geluti. Dari mulai jadi event organizer, peng-garnis di wedding party, tukang pijet, jualan, distributor buku, bantu penelitian dosen, pembina pramuka, magang di Alfama*t, penulis artikel lepas, reporter di media massa, sampai yang paling anyar jadi guru les privat. Pekerjaan yang paling akhir disebut, saya anggap sebagai pekerjaan dengan genre paling keras dan paling menguras otak. 
Tepatnya setelah resign dari Alfama*t, saya memutuskan jadi guru les. Bukan tanpa sebab sih. Sebabnya bayak; menjadi guru adalah prospek paling tepat dan benar setelah lulus dari prodi PPKn Unnes, nyari duit, dan kali saja dapat pencerahan. Dua sebab yang pertama, okelah saya terima setelah hampir setengah tahun ini saya jalani kerjaan jadi guru les privat, tetapi untuk sebab yang ketiga saya pikir ulang. Saya tidak dapat pencerahan dalam aktivitas saya menjadi guru les privat, malah yang saya dapatkan setiap hari setelah mengajar hanya tiga hal; kemumetan, kemumetan, dan kemumetan (mumet akar3) – mumet dalam bahasa Ngapak artinya pusing. 
Jadi guru les privat itu memang bergaji, meski sedikit. Lumayanlah buat tabungan beli kuota internet tree yang 4G-an. Dapat pengalaman iya. Tapi, kalau mau bener-bener diseriusi, bakalan mumet. Sama seperti yang saya alami. 
Saya tipikal guru les privat yang komit mengajar privat hanya 1 dan maksimal 2 orang saja. Berhubung dulu saya dari jurusan IPA SMA-nya, dan pas kuliah malah milih Fakultas Sosial, saya pilih aman saja. Ngelesi anak SD. 
Murid pertama saya, Abell. Siswa kelas IV SD. Kali pertama saya ngajar, sudah jatuh cinta. Anaknya luar biasa. Ndak rewel, ndak ingusan, ndak macem-macem, dan pokoknya ideal banget jadi adik laki-laki saya, haha (kalau ini saya yang ngarep). Sudah hampir setengah tahun saya jadi guru les Abell. 
Januari lalu, setelah merampungkan perhelatan akbar macam PPL dan KKN, saya memutuskan ambil satu lagi murid. Tetap anak SD. Fardhan namanya. Murid kelas 1 SD. Rumahnya di Daerah Ngijo, lumayan dekat kampus, kali pertama ditawari HRD, saya langsung deal. Jadilah selama 4 hari dalam seminggu, saya bolak balik ngajar dua anak ini. 
Ada satu hal yang memang menjadi faktor utama mengapa Anda jangan sekali-kali mencoba-coba jadi guru les privat. Setiap anak selalu membawa pertanyaan masing-masing, yang bagi saya pertanyaan itu bukan pertanyaan biasa. Mereka bertanya tentang hakikat hidup paling sederhana tapi bermuatan filosofis ektra-besar: pertanyaan untuk mengenal Pencipta (Tuhan) dan untuk memahami sesama (Manusia). 
Dari murid kelas 1 SD saya mendapat pertanyaan demikian menyentak. 
“Allah itu ada, Bu?” 
Saya lirik-lirik tivi. Mikir sebentar, kok Fardhan tiba-tiba nanya kayak gitu. “Iya. Ada,” kata saya pendek saja. 
“Berarti Allah dilahirkan, Bu? Kayak aku juga lahiran. Ibunya siapa, Bu, Allah itu? 
Ada cicak lewat di dinding. Saya pandangi. “Hemmm,...” saya mikir lumayan lama. 
Ya, saya kemudian menjawabnya dengan jawaban yang menurut saya maksimal. 
Hari berikutnya, pertanyaan “nyeleneh” itu datang lagi. 
“Bu, katanya Allah itu Maha Besar, berarti kayak raksasa dong?” 
Pukul 8 malam di tengah-tengah menahan terpaan kantuk luar biasa, saya harus menjelaskan tentang ke-Maha Besaran Allah kepada anak kelas 1 SD. Kalau di perkuliahan, bisa saya menjawab dengan argumentasi teologis mengenai konsep ke-Tuhan-an untuk membuktikan keberadaan Allah yang Maha Besar. Di teman-teman kuliah atau forum diskusi dengan sesama mahasiswa, mudah saja saya bilang begini: Allah dapat didefinisikan sebagai ‘sesuatu yang paling besar yang dapat dipikirkan’. Dinyatakan bahwa “ada” itu lebih besar dari “tidak ada”, karena itu keberadaannya yang paling besar tentu dan haruslah “ada”, tidak bisa dipungkiri. Kalau Allah tidak ada, maka Allah bukanlah keberadaan terbesar yang dapat dipikirkan. Memang mudah menjawab itu, tapi yang saya hadapi adalah anak kecil yang sedang membangun konsep ke-Tuhan-annya. Saya berpikir, kalau misal Fardhan mendefinisikan “paling besar” sebagai raksasa, maka itu adalah definisi yang bisa dia pahami untuk saat ini. Karenanya, saya jawab dengan amat sederhana pertanyaan “ngehek”nya. 
“Kalau Fardhan beranggapan raksasa adalah yang paling besar, maka sebesar itulah Allah bagi Fardhan.” 
Pada hari-hari selanjutnya, saya masih kerap ditanyai pertanyaan “nyeleneh” anak kecil. Sampai akhirnya saya men-justice diri saya, “Saya tidak pantas jadi guru les. Saya sudah tidak bisa menjawab pertanyaan anak kecil lagi.” Ada beberapa pertanyaan tentang Tuhan yang tidak bisa saya jawab, sampai saat ini. 
Pada diri Abell, saya jumpai pertanyaan “mumeti” serupa pertanyaan Fardhan. Abell yang sudah lumayan dekat dengan saya, memang kerap mempertanyaan hal-hal out of the box, di luar apa yang saya pikirkan dapat ditanyakan oleh anak seusianya. 
Pertanyaan “nyeleneh” Abell disampaikan bertepatan dengan Jakarta yang pada saat itu sedang di landa teror bom. 
“Kak, kenapa orang meledakkan dirinya dengan bom? Kalau misalnya dia adalah penjahat, mengapa tidak mencopet saja biar dapat uang. Kalau meng-ebom kan yang didapatkan hanya kematian. Kan rugi?” tanyanya usai ngaji iqro jilid 4 bareng saya. 
Haduh! Revisi skripsi saja masih di pelupuk mata pusingnya, dan dari Abell saya malah ditanyai pertanyaan yang, yah, pertanyaan macam apa itu, Bell? Menjawab pertanyaan Abell tentu tidak akan saya jelaskan kaitan bom bunuh diri dengan pengalihan isu Freeport, jihad fisabililah, atau penyebab inflasi. Dijelaskan dengan penggunaan kosakata seperti itu hanya akan membuat Abell makin sering bertanya. 
Anak kecil, meski pertanyaannya tidak sederhana seperti yang mereka pikir, mereka selalu menuntut jawaban sederhana yang dapat ditangkap oleh pemikiran mereka. Itu hukumnya. Dan saya sulit untuk tidak melanggar hukum itu. 
Saya bukanlah pencerita yang baik. Tidak dapat menceritakan sesuatu dengan kalimat sederhana. Institusi pendidikan yang saya berada di dalamnya, mengajarkan saya untuk lebih banyak menghafal, dibanding untuk dapat membuat konsep akan sesuatu dengan formulasi bahasa sendiri. Jadilah, saya orang paling pengecut, dengan menggunakan dalih sebagaimana layaknya guru yang belum mempersiapkan materi ketika mengajar. 
“Nanti kakak cari tahu jawabannya. Besok kakak jelasin, ya, Bell.” 
Gegas, ketika saya pulang. Saya mencari beberapa buku yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan Abell. Dalam proses pencariaan buku-buku itu, saya lebih banyak merenungnya. Dan inilah pesan moral yang ingin saya sampaikan. 
Kelak, ketika saya sudah punya anak. Tidak akan pernah saya bayar seorang guru les untuk mengajari anak saya. Saya takut, mereka (guru les privat) menjawab pertanyaan-pertanyaan anak saya dengan “ngawur” tidak berdasar, menyesatkan. Guru les privat itu banyak kan dari mahasiswa. Kalau urusan duit, memang tidak diragukan. Tetapi untuk menanggapi pertanyaan anak kecil, saya pikir masih kurang (termasuk saya, hehe). Kecuali, satu hal. Guru les itu berasal dari lembaga les privat yang akan saya dirikan (haha: kalau ini keinginan; bisa terwujud, bisa tidak). Niatnya, memang ingin mendirikan lembaga privat dengan penguatan karakter. 
So, curhat nggak jelas bin njlimet ini memang sengaja saya tulis panjang, biar tidak ada yang baca. Tetapi, kalau pun ada yang baca, berarti pikirannya sama “mumet”nya dengan saya. 
Jangan ngaku “mumet”, kalau belum baca tulisan ini.

Ditulis bertepatan dengan malam Minggu, 
oleh penulis yang tadinya mau nulis revisi skripsi, tetapi pindah haluan untuk nulis curhatan.

Baca Selengkapnya ....

Dee Lestari, Aku Patah Hati

Posted by Unknown 0 komentar

Sudah kuhabiskan hampir separuh dari gaji bulananku, untuk membeli episode terakhir dari bukumu, Dee Lestari, Supernova – Intelegensi Embun Pagi (IEP). Untungnya bertanda tangan, jadi paling tidak aku memiliki bekas guratan penamu, Dee. Aku sama sekali tak menyesali, meski paling tidak harus beberapa hari nambah kuota puasa di bulan Maret dan sedikit prihatin memilih lauk makan.  Dan bukan untuk bukumu saja. Kamu tahu, Maret baru menyentuh angka 3, dan aku sudah membeli sekitar 15 buku. Itu pembelian terbanyak sepanjang aku hidup. Dalam tiga hari.
Dee, aku tidak tahu apa yang sudah kamu alami di dalam hidupmu yang belum tua-tua amat. Pengalaman-pengalaman seperti apa yang bisa membuatmu secermelang itu, imaji-imaji seberapa liar yang kamu tumbuh-kembangan dalam tempurung kepalamu yang hanya segenggaman tangan itu dan kaum harus tahu! Kamu menjadi salah satu penulis, yang membikin pembaca karyamu - lupa makan, lupa tidur, lupa skripsi, ya, beberapa lupa, baru ingat setelah menggenapkan semua tulisanmu sampai ke pucuk-pucuknya, tetapi tenang, Tuhan masih bersamaku. Dan aku belum lupa.
Di bukumu, IEP, ada satu yang paling menggelitik bulu kuduk, sampai remang aku membacainya. Pas bagian Elektra menelfon Watti. Itu, loh, yang pas di Surga, kamu lihat Tuhan yang mana? Apakah itu menjadi salah satu pertanyaan dalam hidupmu juga?
Ampun. Bergidik, aku melalafkan pertanyaan itu. Tetapi itulah, bukan Dee namanya kalau dalam setiap lembaran tulisannya tidak membuatku haru, tangis, kaget, bahagia, terkejut, dan perasaan-perasaan lain yang barangkali tidak bisa kuungkap dengan bahasa, seperti yang kamu katakan, ada dimensi lain yang tidak bisa dijelaskan dengan kode-kode lingustik. Bahasa tidak sanggup menampung itu semua.
Tuntas sudah semua seri Supernova kubacai – tentu saja, menjadi seri yang bersejarah di hidupku, yang kutempatkan sejajar dengan Tetralogi Buru, Harry Potter, dan Ronggeng Dukuh Paruk, keempat-empatnya punya tempat tersendiri di sini, hatiku. Hanya saja, usai menuntaskannya, aku ingin kamu tahu, Dee.
Aku patah hati. 
Sebagai penikmat karya kamu, aku harus dipaksa untuk merasakan patah hati, lagi dan lagi, di saat-saat menyentuh lembar terakhir dari buku yang kamu buat hampir 15 tahun itu. Dee, aku, iki, loh, cuma baca. Tapi, patah hatinya tidak tahu sampai kapan akan sembuh, kempes, terus bangkit, lantas gimana dengan kamu?
Aku tidak bisa bayangin. Pasti sakit sekali. Merasa kehilangan, tetapi tidak tahu apa yang hilang.  Mereka hanya rekaan.
Oh, ya, terakhir ini. Salam, ya, buat Mas Bodhi. Kalau yang peretas lainnya kamu buat berpasang-pasangan, kurasa membuat Mas Akar sendirian adalah pilihan kejam, Dee. Padahal di gugus lain, masih ada aku. Masih full, belum parttime.
Kalau kamu kasih ijin, Dee, boleh, ya, Mas Bodhi nemenin sebentar di kosku. Ya, lumayan buat penglipur kalau ada coretan merah-merah dari Dosen yang kadang bikin ruwet mood atau buat apalah ngancani makan di Penyetan. Dipinjemin gitu barang sebentar, tak apa. Sebelum Mas Bodhi menuntaskan misinya melindungi Peretas Puncak, ijikan dia singgah sebentar di kosku, sampai Juli, paling tidak. Aku tidak muluk-muluk banget, Mas Gio, Mas Alfa (alm), Mas Toni, apalagi Bang Ferre, biar hidup di sisimu, satu buatku, tidak apa-apa, kan?
Ya?
Oh, ya, ini aku tulus banget. Untuk kamu, Dee, semoga selalu sehat di mana pun berada. Semoga nama belakang kita yang sama ‘Lestari’ mampu menjadi pendorongku untuk bisa berkarya sehebat karyamu. Selamat vakum sebentar, sebelum kembali menulis lagi, Dee.
Salam,
SL (Not Superlove) – Just, Susi Lestari



Baca Selengkapnya ....

Bedah Novel Eternal Flame Bersama BP2M

Posted by Unknown Februari 28, 2016 0 komentar
Penyerahan kenang-kenangan kepada BP2M 

Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang penulis, kecuali ketika karyanya diapresiasi dan dihargai. Hal itulah yang kemudian dilakukan oleh Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M) Universitas Negeri Semarang dengan melakukan Bedah Novel Eternal Flame oleh penulisnya langsung,  Susi Lestari, Jumat (26/2).
Bedah novel dilaksanakan bertepatan dengan acara open main anggota baru. Tujuannya untuk memotivasi semangat menulis para calon jurnalis. Berikut adalah beberapa ulasan yang dapat dituliskan dari hasil bedah buku yang sumbernya dari pertanyaan-pertanyaan tentang Novel Eternal Flame.

Kak Susi, Novel Eternal Flame adalah novel yang ditulis oleh lim orang. Kok bisa,sih?

Oh, tentu bisa. Itu dinamakan dengan penulisan kolaborasi. Kalau umumnya kan   novel ditulis solo atau oleh satu orang. Nah, kalau novel kolaborasi ditulis oleh lima       orang, lima kepala, lima pikiran, tetapi tetap dalam satu bingkai novel yang utuh.

Kalau kesulitan penulisan novel kolaborasi itu apa?

Menulis novel kolaborasi memang sedikit lebih menantang dibandingkan dengan   novel solo. Soalnya harus menyatukan berbagai macam pemikiran dari orang yang       tidak bisa bertemu langsung. Kesulitannya pada komunikasi antarpenulis. Tetapi,         berkat kemajuan teknologi, kami memanfaatkan aplikasi seperti google doc, whatsapp, dan facebook untuk musyarawarah secara online. Jadi menyatukan segala pemikirannya di musyawarah online itu. Wah, pas proses kreatif itu bener-bener uji   kesabaran banget. Soalnya kadang ada drama gontok-gontokkan, eyel-eyelan, bahkan sampai bantai-bantaian tulisan. Kalau mengenang itu, seru banget.

Sistem penulisannya kayak gimana, Kak?

Sistem penulisannya itu dibagi-bagi. Jadi masing-masing penulis itu mendapatkan satu tokoh. Nah, dari tokoh yang sudah dibagi-bagi, baru kemudian pengembangan          karakter diserahkan masing-masing penulis. Untuk alurnya sudah dibuat dalam satu         outline itu.
            
Penting tidak, Kak, membuat outline dalam penulisan novel?

Kalau menulis cerpen kan bisa, ya, sekali duduk. Tetapi, untuk menulis novel harus            dibuat kerangka atau outlinenya. Kalau misal ada outline, pas penulisan bisa mudah dan tidak gampang bad mood.
           
 Di Novel Eternal Flame, Kak Susi kebagian tokoh siapa?

            
Tokohku Satria. Dia itu cowok yang aku banget. Haha. Satria itu seorang Walka di Stasiun Bekasi yang tugasnya menjaga di gerbong-gerbong KRL Commuterline. Nah, Satria itu asli Semarang, pemuda pendiam dengan mata belo. Diceritain kalau Satria  itu, suka banget sama salah satu penumpang setia Commuterline, Rena. Bahkan, ditembok kos Satria ada lukisna mural wajah Rena. Bener-bener saking cintanya.  Tetapi itu, sebaik-baiknya dan setulus-setulusnya Satria tetap saja ditolak.

Apa bagian yang paling kakak sukai ketika  berhasil menerbitkan novel?

 Hal paling menyenangkan adalah dapat royalti. Tetapi, sebenarnya enggak juga.     Materi itu gampang dicari. Dari proses menulis novel kolaborasi aku dapat banyak hal   indah, seperti keluarga dan readers yang selalu dukung aku untuk terus berkarya.

Sebutin satu quote dong, Kak, biar semangat menulis?

Quotenya aku ambilin dari perkataan guru ku, ya. Menulis membuatmu terancam   keren.


Bedah Novel Eternal Flame berlangsung tiga jam lebih. Di akhir acara, ada penyerahan kenang-kenangan dari penulis novel, Susi Lestari, kepada Muhammad Irham sebagai Pimpinan Umum BP2M.
             
           

           

           





Baca Selengkapnya ....

Kamu Sedang Patah Hati? Beberapa Hal Ini Penting Kamu Ketehui!

Posted by Unknown 0 komentar
Tuhan bersama orang-orang yang sedang patah hati


Ada yang bilang, patah hati adalah sebagai bagian dari proses mencintai dan dicintai. Belum lengkap, dua proses itu kalau patah hati belum kamu rasain. Eitts, tetapi jangan khawatir, meski kadang pedih dan nyeri sekali rasanya patah hati itu, kamu harus tahu, patah hati membuatmu semakin dewasa. Kalau kamu sedang patah hati, beberapa hal ini penting kamu ketahui! 
Patah hati membuat kamu lebih kreatif. Tahu dong pujangga-pujangga kenamaan di dunia macam Shakespeare atau Kahlil Gibran, karya masterpiece mereka dibuat ketika mereka patah hati. Selain membuat kreatif, jika kamu pengin patah hati itu membuat kamu malah merasa menjadi orang-orang beruntung, cobalah berkumpul dengan orang-orang yang patah hatinya lebih dahsyat dibandingkan kamu. 
Nah, berkumpul dengan orang-orang yang sedang patah membuat kamu memiliki katarsis. Istilah katarsis diperkenalkan oleh Bang Sigmund, yang pada intinya katarsis adalah salah satu teknik untuk melepaskan emosi yang terpendam, termasuk emosi kesakitan orang-orang yang sedang patah hati. Berbagai macam penyaluran emosi, seperti curhat, menulis, berteriak, naik genteng, dapat kamu lakukan untuk mengurangi dan meluapkan segala emosi. 
Katarsis paling mudah dan simpel, ya, itu tadi: berkumpullah dengan orang-orang yang sedang patah hati juga. Biarkan segala cerita mengalir, ceritakan apa yang selama ini terpendam. Hasilnya? Kamu akan merasa lebih bersyukur. 
"Wah, ternyata ada yang lebih mengenaskan patah hatinya dibandingkan saya." 
"Kok. Kamu lebih hancur dan berkeping-keping ya, patahnya?" 
Saat bertemu dengan orang yang senasib, hati kamu akan lumayan lega dan kembali menyadari di balik ketidakberuntungan kamu mengalami patah hati paling tidak ada yang lebih buruk ketidakberuntungannya. 
Meski, berkumpul dengan orang-orang yang sama-sama patah itu baik, dan semakin menjadikan kamu bersyukur dalam setiap kondisi yang kamu lalui ingat, bahwa memendam perasaan patah terlalu lama itu tidak baik. Selalu ingat, bahwa hidup itu sebentar. Tuhan telah membatasi waktu manusia di dunia. So, jangan sampai berlarut-larut patah hatinya, ya.
Cukup katakan dengan lantang, AKU BISA MOVE ON!



Baca Selengkapnya ....

Jumlah Tamu

Belajar SEO dan Blog support Online Shop Aksesoris Wanita - Original design by Bamz | Copyright of MANTRA BACA .